Facial 30 Menit Jadi Tren Baru Perawatan Kulit Urban
Bagi masyarakat urban dengan mobilitas tinggi, waktu adalah komoditas yang paling berharga.
Editor:
Dodi Esvandi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Bagi masyarakat urban dengan mobilitas tinggi, waktu adalah komoditas yang paling berharga.
Tren kecantikan di Indonesia kini pun bergeser; dari perawatan yang bersifat "insidental" menjelang acara besar, menjadi rutinitas cepat yang bisa diselipkan di sela jam makan siang.
Fenomena ini selaras dengan data Kantar yang menunjukkan kategori beauty di Indonesia tumbuh 16 persen secara tahunan—empat kali lebih cepat dibanding pertumbuhan produk konsumsi (FMCG) lainnya.
Konsumen kini tak lagi hanya mencari hasil instan yang drastis, melainkan konsistensi perawatan yang praktis, transparan secara harga, dan tanpa downtime (masa pemulihan).
Survei Populix terhadap 1.100 milenial dan Gen Z memperkuat tren ini.
Sebanyak 59% responden rutin membeli produk skincare setiap satu hingga tiga bulan sekali.
Kesadaran akan kesehatan kulit yang tinggi ini mendorong munculnya konsep facial studio yang lebih ringkas dibandingkan klinik estetika konvensional.
Salah satu pemain di industri ini, Liff Facial Studio, menangkap peluang tersebut dengan menawarkan durasi perawatan hanya 30 menit.
"Kami melihat kondisi kulit konsumen tidak pernah benar-benar sama setiap harinya, dipengaruhi stres hingga cuaca. Maka perawatan harus tetap personal namun tetap masuk ke jadwal yang padat," ujar James Roring, Founder Liff Facial Studio.
Berbeda dengan facial tradisional yang seringkali terasa melelahkan karena durasinya yang lama, konsep facial modern kini lebih menonjolkan efisiensi teknis.
Penggunaan teknologi seperti LED Photodynamic Therapy (PDT) dengan Blue Light untuk jerawat atau Red Light untuk mencerahkan kini dipadukan dengan konsep Serum Bar.
Metode ini memungkinkan beautician memberikan serum yang dikurasi sesuai kondisi kulit saat itu juga—seperti DNA Salmon atau Hyaluronic Acid—tanpa prosedur invasif yang menyakitkan.
Baca juga: Banyak Remaja Perawatan Facial, Amankah untuk Kulit Wajah? Ini Penjelasan Dokter
Kebutuhan Universal
Menariknya, kesadaran akan perawatan wajah ini tidak lagi didominasi oleh perempuan.
Kini, pria mulai melihat facial sebagai kebutuhan rutin untuk menunjang penampilan profesional.
Di Liff sendiri, pelanggan pria kini sudah mencapai sekitar 25?ri total basis konsumen.
Dengan rencana ekspansi hingga 20 cabang di Jabodetabek pada akhir tahun, tren "perawatan sat set" ini diprediksi akan semakin menjamur.
Kunci keberhasilannya bukan lagi pada kecanggihan alat semata, melainkan pada kemudahan akses lokasi yang dekat dengan kantor atau hunian, serta kejelasan durasi bagi mereka yang diburu waktu.