Oleh: Jerry Indrawan, M.Si (Han)
Dosen Ilmu Politik UPN Veteran Jakarta
Tatanan moral bangsa kita kelihatannya semakin hari semakin terkoyak-koyak oleh berbagai peristiwa kekerasan, intoleransi, dan dehumanisasi yang tiada akhirnya. Drama demi drama kekerasan, pembantaian, dan pengorbanan manusia terjadi begitu saja tanpa pernah sedikit pun mengusik nurani bangsa ini. “Bangsa yang sedang sakit jiwa”, mengutip pendapat Amien Rais. Bangsa yang sedang tenggelam ke dalam lembah teror dan jurang immoralitas yang paling rendah.
Sejak digaungkan Presiden Prabowo Oktober lalu, Makan Bergizi Gratis (MBG) seakan menjadi ujung tombak pemerintah dalam memulai masa bakti 5 tahunnya. Namun, setahun setelahnya yang publik dengar bukan gizi tapi racun dalam MBG. Banyaknya siswa yang keracunan MBG adalah hasil kompromi elit untuk melakukan mark up terhadap nilai ekonomi dari MBG itu sendiri. Demi margin keuntungan yang lebih besar, anak-anak sekolah harapan bangsa dikorbankan.
Lari kemana moral dari manusia Indonesia yang dikenal tepo seliro ini? Negara pun terkesan mengorbankan anak-anak ini demi kesuksesan pencitraan program MBG. Apakah negara sudah tidak punya moral? Saya harap tidak, karena negara justru harusnya menjadi penguat prinsip-prinsip moralitas bangsa, bukan memperlemahnya demi kepentingan elit.
Rasa takut, sedih, malu, menyesal, tobat yang menjadi bagian jadi struktur moral, kini seolah-olah terkikis dari budaya bangsa ini. Tindakan-tindakan amoralitas seakan tidak pernah berhenti melukai ibu pertiwi. Korupsi dibenarkan demi sebuah nurani yang sesat. Moral tidak mampu lagi bicara di negeri ini. Ia dimatikan oleh sebuah ketidaksadaran kolektif yang bagaikan gurita mencengkram sanubari dan akal sehat bangsa. Fakta banyaknya kasus keracunan MBG yang terjadi seolah menjadi validasi akurat terhadap pernyataan ini.
Menurut Hans Enzensberger, Kekacauan, kebrutalan, dan ketidakpedulian di dalam tubuh bangsa ini dikendalikan oleh sebuah industri pikiran yang memproduksi pikiran-pikiran jahat. Pikiran-pikiran jahat ini menciptakan berbagai kekacauan dan instabilitas di dalam masyarakat. Produk dari industri pikiran ini adalah situasi ketidakpastian (turbulence) dalam arah, tujuan, dan bentuk perkembangan masyarakat atau negara. Mereka lihai menciptakan kebencian, kekacauan, dan ancaman yang kesemuanya semu.
Energi libido masyarakat seperti diaduk-aduk dalam suatu kebencian yang mendalam dan konflik sosial yang kronis. Walaupun sering dianggap silent majority, Mereka dikonstruksikan menjadi floating mass yang gampang tersulut emosinya, mudah termakan janji-janji, dan mudah pula percaya isu-isu provokatif. Melihat kaburnya batas-batas moral di dalam masyarakat kita akhir-akhir ini, tidak mungkin lagi kita mampu meneropongnya dari kacamata moralitas yang umum.
Kondisi yang kini berkembang di masyarakat kita adalah seperti yang disebut George Bataille sebagai “hiper-moralitas”. Hiper-moralitas adalah sebuah kondisi di mana ukuran-ukuran moralitas yang ada tidak dapat dipegang lagi, karena situasi yang berkembang telah melampaui batas-batas good and evil.
Benar kata pengamat politik Burhanudin Muhtadi, “Bangsa Indonesia memang semakin sholeh, tetapi juga semakin tidak menoleh”. Afirmasi harus kita berikan terhadap statement tersebut, sudah bukan rahasia lagi jika bangsa kita secara kuantitas rohani sudah semakin baik. Terbukti dari banyaknya pembangunan rumah ibadah, membludaknya tayangan-tayangan keagamaan di televisi lengkap dengan syiar dan dakwahnya, jilbab yang sudah mulai banyak dikenakan oleh perempuan-perempuan muslim, serta menjamurnya organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia.
Baca juga: Kepala BGN Sebut Air Jadi Biang Kerok Banyaknya Kasus Keracunan MBG
Akan tetapi, mengapa yang terjadi adalah intoleransi? Apakah degradasi moral bangsa kita sudah sedemikian parahnya, sehingga walaupun kualitas keagamaannya meningkat, tetapi kualitas kemanusiaannya semakin pudar? Atas nama agama, banyak oknum yang juga mengaku beragama, melakukan kekerasan terhadap sesama makhluk Tuhan, hanya karena mereka tidak sealiran. Hanya karena mereka dianggap menyimpang, dan hanya karena mereka dianggap “berbeda”. Padahal, apalah arti perbedaan itu di Indonesia? Bukankah kita adalah negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika, dimana walaupun kita berbeda-beda, tetapi tetap satu jua?
Intoleransi bukan saja soal agama, tetapi ke sesama manusia secara holistis. Ke mana toleransi kita terhadap sesama apabila keinginan dan nafsu sesaat mengaburkan justifikasi moralitas kita sendiri. Orang bermoral dan toleran mana yang tega mengorbankan perut anak-anak demi perutnya sendiri?
Apakah semakin manusia dekat dengan Penciptanya, maka segala sesuatu yang tidak transenden itu harus dipinggirkan? Haruskah humanisme, moralitas, dan sikap tepo seliro kalah oleh keinginan pribadi untuk khusyuk beribadah, tetapi tidak ingin orang lain juga menikmatinya? Jika begini, oknum-oknum tersebut juga melakukan dosa besar dengan mengabaikan sisi moral manusia, yang asalnya dari pemberian Tuhan juga.
Konsepsi salib pada umat Kristiani sangat menarik. Sisi vertikalnya merepresentasikan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sedangkan sisi horisontalnya merepresentasikan hubungan antara manusia dengan sesamanya. Jadi, manusia seharusnya tidak mengusir sisi kemanusiaannya hanya karena perbedaan-perbedaan yang sifatnya temporal, tetapi sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, yang sama-sama memperjuangkan ketuhanan dan juga kemanusiaannya.
Moral harusnya menjadi panduan yang berbicara banyak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Sayangnya, moral kita tak lagi bicara karena ditutup oleh pikiran jahat dan libido amoralitas yang sempit. Jangan lupakan nafsu serakah menguasai harta dan tahta dari oknum-oknum tak bermoral yang tega “meracuni” generasi-generasi muda penerus bangsa, yang nantinya akan membawa bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045. Cita-cita mulia, yang harusnya bisa diawali dari program MBG apabila dikelola dengan baik dan benar.