Tribun

Pilpres 2024

Pengamat: Pilpres 2024 Minimal Harus Ada 3 Pasangan Capres-Cawapres untuk Bungkam Politik Identitas

Pengamat menyebut tiga poros koalisi partai politik harus terbentuk dalam Pilpres 2024 untuk membungkam politik identitas dan polarisasi isu.

Penulis: Wahyu Gilang Putranto
Editor: Garudea Prabawati
zoom-in Pengamat: Pilpres 2024 Minimal Harus Ada 3 Pasangan Capres-Cawapres untuk Bungkam Politik Identitas
Grafis Tribunnews/Gilang Putranto
Ilustrasi Pilpres 2024 - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai setidaknya tiga poros koalisi partai politik harus terbentuk dalam Pilpres 2024 untuk membungkam politik identitas dan polarisasi isu. 

TRIBUNNEWS.COM - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai setidaknya tiga poros koalisi partai politik harus terbentuk dalam Pilpres 2024 untuk membungkam politik identitas dan polarisasi isu.

Pangi berharap adanya lebih dari dua pasangan capres-cawapres dapat menghindari keterbelahan pasca-Pilpres 2024.

"Kita tentu saja sangat risih dengan pendapat politisi yang merasa tidak mempermasalahkan kalau kontestasi elektoral pilpres 2024 nanti hanya diikuti 2 (dua) kandidat capres-cawapres," ungkap Pangi kepada Tribunnews, Jumat (9/9/2022).

Menurut Pangi, politisi yang tidak mempermasalahkan fenomena Pilpres hanya diikuti dua pasang capres-cawapres adalah politisi yang tidak mau belajar dari fakta politik masa lalu.

"Bagaimana kita merasakan dan menyaksikan langsung kerusakannya akibat polarisasi isu dan politik identitas yang menyebabkan keterbelahan publik pada pilpres 2019," ungkapnya.

Lanjut Pangi, luka akibat polarisasi cukup menganga dan lebar.

Baca juga: Airlangga Hartarto Salah Satu Nama Bakal Capres yang Disenangi Jokowi, Pengamat Ungkap Alasannya

"Puncaknya bagaimana pengeroyokan terhadap Ade Armando," katanya.

Selama ini, kata Pangi, para elite mengatakan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, ternyata keterbelahan itu ada dan nyata terjadi di tengah masyarakat.

"Polarisasi isu, politik identitas telah menyebabkan kerusakan yang nyata merobek tenun kebangsaan pada pilpres 2019."

"Oleh karena itu, kita sebagai bangsa yang kuat, tidak boleh ada lagi tempat atau ruang untuk membuka kotak pandora politik identitas dengan polarisasi isu yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa," ungkapnya.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas