Baja Ringan Kok Bengkok?
Jarum jam sedang berputar menuju waktu pergantian hari, Senin (4/6/2012)
Penulis:
Wahyu Aji
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Jarum jam sedang berputar menuju waktu pergantian hari, Senin (4/6/2012). Iwa Kartiwa (40) sedang bersiap-siap beristirahat ketika tiba-tiba terdengar suara gemuruh tak jauh dari rumahnya. Warga segera datang memeriksa asal suara dan mendapati gedung SDN 20 Cipinang Besar Selatan rubuh.
Kejadian tengah malam itu begitu mengejutkan. Apalagi gedung SD yang terletak di Jalan Panca Warga 4, Gang 12, RT 07 RW 03, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur itu belum genap sebulan menjalani proses renovasi. Namun dalam sekejap seluruh atap bangunannya mendadak ambruk.
Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Padahal Iwa ingat betul sebelum atap sekolah roboh, para pekerja bangunan masih terdengar sibuk memasang kuda-kuda atap bangunan dan genteng sekitar pukul 23.00 WIB. Menjelang pukul 24.00 WIB, Iwa mendengar suara gemuruh atap runtuh tersebut.
"Saya sih tidak tahu mulanya bagaimana. Yang jelas tadi malam ada suara gemuruh dan setelah dicek ternyata atap sekolah ini sudah ambruk ke tanah. Tadi malam juga memang pekerja masih melakukan finishing pekerjaan,” ujar Iwa yang salah satu anaknya juga bersekolah di SDN tersebut kepada wartawan di lokasi kejadian, Rabu(6/6/2012).
Setidaknya, tujuh ruangan rusak, dipenuhi puing reruntuhan genting dan rangka baja ringan. Ruangan itu adalah 3B, 4A, 4B, 5A, 5B, 6, ruang Kepala Sekolah dan ruang Unit Kesehatan Sekolah.
Para murid yang tiba di sekolahnya hanya bisa melongo menyaksikan tempat belajarnya porak poranda. Mereka pun akhirnya memilih bermain-main di lapangan.
Ryan Rahmawan (9), murid kelas V-B mengatakan, ia dan murid-murid lainnya sempat memakai ruangan yang atapnya ambruk untuk kegiatan sekolah selama seminggu. Namun, selama itu, tidak terasa keanehan pada struktur atap bangunan.
"Nggak apa-apa kok, nggak bunyi, nggak apa," ujarnya.
Sementara Rizki Adriansyah (9), teman sekelas Ryan, merasa khawatir musibah tersebut bisa mengganggu jalannya proses belajar-mengajar. Apalagi Senin mendatang , seluruh murid akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
"Ya takut ketinggalan pelajaran. Makanya cepat diperbaiki," pintanya.
Marihot (37), salah satu orangtua murid, kecewa pada renovasi yang berujung ambruknya atap sekolah. Meski orangtua siswa tidak pernah dipungut uang pembangunan, seharusnya renovasi sekolah tidak berimbas pada buruknya kualitas bahan material.
"Ya, lihat aja bengkok begitu, enggak mungkin baja ringan, itu mah aluminium. Mana bisa nahan genting seberat itu?" ujarnya kesal.
Sanip Pitriyani (30) memperkirakan ambruknya bangunan karena pondasi sekolah yang tidak kuat menahan beban genteng. Orang tua salah seorang siswa di SDN 20 ini mengatakan, murid-murid masih diliburkan pada Rabu (7/6/2012).
"Diliburkan dari kemarin. Katanya mau dipindahkan ke SD 19. Kan Senin depan mau ujian," katanya, Rabu pagi.
Sanip berharap pihak terkait segera melakukan penyelidikan dan perbaikan sekolah ini dengan pondasi yang harus lebih kuat. Selain menyelidiki ambruknya bangunan, dia juga berharap pungutan di sekolah ini diteliti.
"LKS Rp 56.000, batik Rp 100.000. Batik apa yang harganya segitu, belum lagi kalau berenang bayar Rp 10.000 setiap pertemuan," ujarnya.(WAHYU AJI)
*Silakan klik di Sini untuk update Tribun Jakarta Digital Newspaper