Sumarno: Saya Enggak Pernah Mengajarkan Anak Saya Kayak Gitu
Kamis (19/7/2012) pukul 02.00 WIB, tiga mobil dari Polres Depok serta sekitar 15 petugas, langsung menggedor rumah Sumarno.
Penulis:
Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kamis (19/7/2012) pukul 02.00 WIB, tiga mobil dari Polres Depok serta sekitar 15 petugas, langsung menggedor rumah Sumarno.
Suasana saat itu sepi, tidak ada satupun warga yang menyaksikan penggerebekan. Sumarno kaget ketika polisi mengitari tempat ia tidur bersama anak-anaknya.
"Pikiran saya kosong, mau teriak atau ngomong tidak bisa. Polisi cuma manggil anak saya, dan langsung membawa ke mobil," ujar Sumarno mengenang malam itu kepada Tribun Jakarta, Minggu (22/7/2012).
Sumarno bingung, ia mencoba menanyakan maksud kedatangan polisi ke rumahnya. Polisi hanya memintanya tenang.
"Bapak sabar, enggak ada kaitannya dengan bapak, cuma masalah motor," imbuhnya.
Tak lama, polisi langsung membawa MS dan meninggalkan lokasi penangkapan. Sumarno hanya terbengong. Di pikirannya hanya ada satu nama, yakni D, orang yang terakhir kali bersama anaknya.
Sumarno pun langsung mendatangi rumah D. Ternyata benar, yang bersangkutan tidak berada di kediamannya, karena sedang diburu polisi.
Pagi hari, Sumarno langsung menuju Mapolsek Bojong Gede. Ia mendampingi anaknya yang sedang diperiksa penyidik. Berkali-kali, Sumarno memeluk MS. Dari situ ia tahu anaknya terlibat pembunuhan ayah-anak di Bojong Gede.
"Walau saya cuma kerja gali sumur, saya enggak pernah mengajarkan anak saya kayak gitu. Saya enggak menyangka," tutur Sumarno sambil meneteskan air mata.
Kepada Sumarno, MS mengaku hanya diajak D ke rumah korban. Di sana, MS lebih banyak duduk mendengarkan obrolan mereka.
MS, kata Sumarno, hanya melihat korban dibunuh oleh pelaku lainnya. Kapolsek Kompol Bambang Irianto kemudian mengatakan kepada Sumarno, bahwa anaknya harus didampingi pengacara. Namun, Sumarno khawatir harus mengeluarkan uang untuk biaya pengacara.
"Pak Kapolsek bilang ke saya melalui anak buahnya, kalau ada yang minta uang bilang saya, nanti ada pengacara dari LBH yang menemui saya," ungkap Sumarno.
Sumarno kemudian pulang kerumah. Tatapannya kosong. Proyek gali sumur yang bisa digunakan untuk menjalani puasa, gagal sudah. Di rumah, Arfah, ibu MS, tidak henti menangis.
"Saya tidak ada firasat sama sekali," kata Arfah sesenggukan. (*)
BACA JUGA