Bayi Berusia Tujuh Bulan Terpaksa Menginap di Reruntuhan Bangunan
Sang bayi bernama Saskia Setyo Septiani yang berusia tujuh bulan itu terus menangis. Dikasih ASI pun tangisannya tak kunjung reda
Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Feryanto Hadi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Warga Kampung Srikandi, RT 7/RW 3 Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur, bersikeras tak mau meninggalkan lokasi bekas rumah mereka, meskipun bangunan tersebut telah rata dengan tanah akibat penggusuran di pagi hari tadi. Mereka tidak punya pilihan, selain menginap di ruang terbuka, diantara reruntuhan bangunan.
Rohimah (34) atau yang biasa dipanggil Imah adalah salah satu warga Komplek Srikandi yang rumahnya sudah dirobohkan. Pada Rabu (22/5/2013) malam, di sela-sela reruntuhan bangunan yang berserakan, dia terlihat mondar-mandir menggendong seorang bayi.
Sang bayi bernama Saskia Setyo Septiani yang berusia tujuh bulan itu terus menangis. Dikasih ASI pun tangisannya tak kunjung reda.
"Saya nggak tahu nanti mau tinggal di mana. Malam ini saya sekeluarga akan tetap bertahan di sini. Warga lain juga di sini semua," kata Imah.
Imah pun tak begitu memikirkan seandainya nanti turun hujan. Apalagi, di lokasi penggusuran belum ada satupun tenda yang berdiri.
Kata Imah, semenjak penggusuran Rabu pagi hingga malam, memang belum ada bantuan apapun yang masuk, baik tenda, obat-obatan atau makanan.
"Saya kesal sekali. Apalagi pas eksekusi, aparat langsung menyerbu begitu saja. Kemarin (Selasa_red), katanya penggusuran dilakukan jam sembilan, tapi setengah tujuh mereka sudah datang dan nggak lama ada gas air mata. Banyak korban dari warga. Anak-anak juga banyak yang kena gas air mata," kata Imah.
Ketika masih berbincang dengan Warta Kota, Saskia, bayi mungil itu, terus menangis. "Biasanya dia nggak seperti ini. Tapi malam ini dia rewel. Atau mungkin dia trauma, kaget, biasanya tinggal di rumah sekarang ada di sini," kata Imah sambil terus menimang sang buah hati.
Imah tak tahu sampai kapan dia akan bertahan di lokasi pengusuran, di bekas rumah yang telah ditempatinya sejak tahun 2000 silam, bersama suami dan ketiga anaknya.
"Malam ini semuanya tetap di sini. Sampai kita dapat tempat tinggal lagi. Harapan saya kita bisa diganti tapi harus sesuai. Sekarang uang Rp 25 juta yang mereka tawarkan itu bisa buat apa? itu kan uang kerohiman. Sedangkan ngontrak aja setahun Rp 15 juta. Saya tinggal sejak 2000. Dulu beli tanah lewat orang. Bangun rumahnya juga habis ratusan juta. Kita maunya diganti bangunan juga,"katanya.
Menurut Imah, warga Srikandi sudah membulatkan sikap bahwa mereka akan tetap menuntut keadilan, menuntut ganti rugi yang sesuai.
"Di sini ada 135 KK (Kepala Keluarga). Kita sepakat untuk tetap bertahan. Rencananya besok pada mau bangun tenda. Kalau saya pribadi, nuntutnya bukan uang, tapi bangunan," kata Imah. Dia pun menolak tegas jika seandainya nanti akan direlokasi ke rumah susun.