Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kemunculan Ribuan Ulat Jengkal Resahkan Warga Pasar Minggu

Belasan pohon flamboyan yang berjejer di sisi kiri Jalan Raya Pejaten tersebut terlihat dihuni oleh ribuan ulat-ulat jengkal

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Dwi Rizki

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memasuki musim penghujan, ribuan ulat jengkal terlihat muncul kembali dan menguasai pohon-pohon flamboyan di wilayah Pejaten Barat, tepatnya di Jalan Raya Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dalam waktu seminggu terakhir.

Pemandangan yang umum terjadi dua kali dalam kurun waktu satu tahun itu diungkapkan Rahmat (35) pemilik warung rokok di Jalan Raya Pejaten kini terlihat lagi. Belasan pohon flamboyan yang berjejer di sisi kiri Jalan Raya Pejaten tersebut terlihat dihuni oleh ribuan ulat-ulat jengkal berwarna coklat berukuran 3 cm sampai dengan 4 cm.

Dikatakannya, walaupun keberadaan ulat jengkal yang memiliki nama latin chrysodeixis chalcites Esp itu tidak mengganggu warga, karena tidak menimbulkan gatal ataupun berbau, namun adanya ulat jengkal berwarna coklat tersebut cukup membuat warga kewalahan.

Sebab, apabila malam hari, khususnya selepas hujan, ribuan ulat jengkal itu terlihat mulai menginvasi dengan merayap ataupun bergelantungan turun dan mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa pemilik warung makan, termasuk dirinya pun mengaku sudah melakukan upaya pemusnahan, yakni dengan cara melakukan pembakaran dan penyiraman minyak tanah pada pohon, tapi langkah tersebut belum juga membuahkan hasil.

"Ulat jengkal itu sebenarnya nggak bahaya atau mengganggu warga, tapi karena bentuknya yang aneh, orang-orang jadi jijik sama geli. Apalagi kalau lihat gerakannya meliuk-liuk naik turun waktu jalan ngerayap, orang mungkin bergidig melihatnya," ungkapnya sampil terus menyapu teras warung miliknya yang terlihat mulai dipenuhi ulat.

Namun, bagi dirinya, keberadaan ulat yang memiliki siklus hidup selama 30 hari tersebut dianggap biasa. Sejak dirinya membuka warung sekitar 10 tahun lalu, ulat-ulat yang memiliki bentuk tubuh memanjang warna coklat dengan kaki-kaki kecil pada masing-masing tubuhnya itu tidak membuat dirinya resah. Hanya saja, ungkapnya, beberapa pembeli yang hendak berbelanja ataupun biasa duduk-duduk santai di depan warung miliknya itu terlihat sepi dalam kurun waktu tiga hari terakhir.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kalau saya sih pertamanya aja geli, tapi kesini-sini, sudah biasa. Nah, bikin repotnya pembeli yang datang, anak-anak SMA, mahasiswa UNAS atau yang biasa nongkrong ngopi di sini malas. Soalnya mereka kebanyakan jijik liat ulet itu," ungkapnya terbahak.

Ditemui di lokasi, Ketua RT 12/02 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Dewanto pun mengamini perkataan Rahmat. Karena dirinya secara langsung belum mendapatkan laporan maupun keluhan warga terkait fenomena kemunculan ulat jengkal tersebut.

"Nggak terlalu ganggu warga sih, cuma yang kasian ya pedagang malam yang jualan di pinggir jalan ini. Soalnya pedagang bilang, tiga malam ini sepi, soalnya pas pembeli datang dan mulai duduk, karena lihat banyak ulet, semuanya langsung pergi," ucapnya tersenyum.

Lebih lanjut ungkapnya, kekawatiran tersebut tidak terlalu serius, karena menurutnya fenomena munculnya ulat jengkal tidak bersifat permanen dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu dua sampai tiga hari mendatang. "Kalau pengalaman sih banyaknya ulet ini cuma semingguan aja, habis itu juga hilang sendiri. Ya kira-kira dua sampai tiga hari juga sudah hilang," jelasnya.

Warung yang berada tepat di sebelah perumahan Pejaten Mas, Pejaten Barat, Jakarta Selatan, Minggu (10/11) kemarin malam juga melihat secara langsung ribuan ulat yang mulai bermunculan pada malam hari. Ulat-ulat itu terlihat keluar dari balik kulit-kulit pohon flamboyan yang retak dan keropos itu kemudian merayap ataupun bergelantungan turun dari pohon dengan menggunakan seutas benang tipis dari belakang ekornya.

Jika diamati lebih dekat, ulat-ulat tersebut turun untuk menghampiri cahaya lampu yang menggantung di depan warung. Namun tidak jarang, ulat-ulat tersebut turun untuk kemudian masuk ke dalam saluran air yang berada tepat di samping pohon flamboyan.
Walaupun kondisi gelap malam hari ditambah dengan cuaca mendung setelah turun hujan, aktivitas dan keberadaan ribuan ulat-ulat tersebut masih bisa dilihat dari banyaknya kotoran berwarna hijau cerah berserabut yang jatuh dari atas pohon.

Kotoran tersebut terlihat jelas menempel pada beberapa kendaraan maupun baju pembeli yang kebetulan berhenti untuk berbelanja. Di sisi lain, kemunculan ribuan ulat tersebut bukan hanya dijauhi oleh warga, namun beberapa pengendara bermotor yang melintas terlihat berhenti di tengah kerumunan warga yang melihat munculnya ulat-ulat jengkal tersebut.

Sumber: Warta Kota
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas