Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

BPOM Temukan Makanan Mengandung Boraks di Mal Kelapa Gading

BPOM menyatakan, empat jenis makanan di kawasan niaga Mal Kelapa Gading (MKG), Jakarta Utara, mengandung boraks

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sanusi
zoom-in BPOM Temukan Makanan Mengandung Boraks di Mal Kelapa Gading
SURYA/SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
UJI MAKANAN TAKJIL - Petugas Balai Besar Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Dinas kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menguji sampling makanan yang dijual pedagang di bazar Ramadan di kawasan Masjid Al Akbar di mobil laboratorium, Senin (22/6). Uji itu untuk mengetahui makanan yang dijual pedagang apakah mengandung zat makanan berbahaya seperti formalin dan boraks. SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DKI Jakarta menyatakan, empat jenis makanan di kawasan niaga Mal Kelapa Gading (MKG), Jakarta Utara (Jakut), mengandung boraks dan rodhamin.

Hal ini berdasarkan hasil sidak BPOM pada 18 Mei 2015 atau hari pertama bulan Ramadhan 2015.

"Saat itu, ada 19 sampel makanan yang diperiksa dari 18 tempat di Food Court MKG. Hasilnya, 15 makanan itu aman dikonsumsi sedangkan empatnya tidak aman," ujar Kepala BPOM DKI Jakarta, Dewi Prawitasari di kantor Kecamatan Pademangan, Selasa (30/6/2015).

Menurut Dewi, salah satu dari empat jenis makanan tersebut, yaitu kue mangkuk pink, mengandung Rodhamin-B. Sedangkan tiga jenis makanan lainnya, kue mangkok putih, kue singkong dan candil merah diketahui mengandung boraks.

Rodhamin-B, terang Dewi, biasanya digunakan untuk pewarna, bahan baku tekstil hingga pembuatan kertas. Sedangkan Boraks kerap digunakan untuk mengawetkan kayu, pembuatan kaca atau gelas, serta pembuatan pupuk.

"Nah, kalau dikonsumsi, bisa sakit pencernaan seperti sakit hati dan kanker," tuturnya.

Meski demikian, kebanyakan dari penjual makanan di food court tersebut mengaku tidak tahu soal bahan berbahaya yang terkandung di makanan yang dijajakannya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Tapi ada juga yang mengaku sengaja mencampurkan bahan berbahaya di adonan makanannya dengan alasan supaya awet dan menarik minat pembeli," demikian Dewi.(Tangguh Sipria Riang)

Sumber: Kompas.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas