Ayah Mirna: Pembunuhan Mirna Bermotif Kepribadian Ganda
Jessica Kumala Wongso diduga membunuh Wayan Mirna Salihin karena sakit hati setelah ditinggal menikah
Penulis:
Glery Lazuardi
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Jessica Kumala Wongso diduga membunuh Wayan Mirna Salihin karena sakit hati setelah ditinggal menikah. Dia menghabisi teman kuliah di Billy Blue Collage itu dengan cara menaruh zat sianida ke minuman es Kopi Vietnamese.
Edi Dermawan Salihin, ayah kandung Mirna, mensinyalir Jessica mempunyai kepribadian ganda sehingga nekat menghabisi anaknya. Pengungkapan ini disampaikan di acara Indonesia Lawyer Club yang disiarkan di salah satu stasiun televisi nasional pada Selasa (2/2/2016) malam.
“Motif kepribadian ganda. Persoalan simpel dibuat ribet,” tutur Dermawan saat berbicara dalam acara tersebut.
Bukan tanpa alasan mengapa Dermawan membuat pernyataan mencengangkan itu. Dia mengaku melihat sendiri percakapan di aplikasi WhatsApp antara anaknya dengan terduga pembunuh. Dia sempat mengira anaknya penyuka sesama jenis setelah melihat percakapan itu.
Ada percakapan yang membuat suami dari Santi itu merasa janggal. Percakapan tersebut, yaitu “Mir, gw mau dong dicium sama lo, sudah lama,” ucap Darmawan.
Namun, setelah memastikan ternyata anaknya itu bukan penyuka sesama jenis. Terbukti dari ikatan pernikahan Arif Soemarko dengan Mirna. Mereka menikah pada Desember tahun lalu setelah menjalin hubungan percintaan selama delapan tahun. Arif merupakan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Melbourne , Australia.
“Saya terkaget ini anak saya lesbi ternyata tidak. Sangat normal. Pacaran delapan tahun, maried. Arif normal,” kata dia.
Setelah menikah ternyata malapetaka itu terjadi. Jessica mengundang Mirna dan Hani untuk bersama-sama bereuni di Cafe Olivier, Grand Indonesia pada Rabu (6/1). Di tempat itu terjadi insiden di mana Mirna meminum kopi yang mengandung sianida.
Saat pernikahan itu, dia mengaku tak mengundang Jessica. Sebab, selama beberapa tahun terakhir wanita itu sempat menghilang. Dia pun tak melihat Jessica saat berada di Austalia untuk menghadiri wisuda anaknya.
Darmawan berandai-andai apabila Mirna tak menikah dengan Arif, mungkin saja, insiden yang membuat dia harus kehilangan anak itu tak terjadi. “Setelah menikah jadi masalah. Delapan tahun mengenal Mirna tak apa-apa. Setelah menikah jadi masalah. Coba tak merit tak mati,” ujarnya.
Dia menilai Jessica membuat Mirna seperti mainan. Jika, mainan itu diambil maka sang pemilik akan melakukan segala cara untuk memiliki mainan itu kembali. Daripada dia kehilangan lebih baik mainan itu dibuang atau dalam arti ini dibunuh.
“Kalau saya lihat, Jessica punya mainan. Jangan sentuh mainan gw ini. Toy (mainan,-red) dilihat, dicakar orang lagi. Gw bunuh saja. Mirna nih mainan. Dua-duanya dia hilang, Hani diambil Mirna, Mirna diambil Arif. Daripada semua tak dapat gw matiin lo,” tambahnya.
Berbagai informasi mengenai hubungan Jessica dan Mirna didapatkan Darmawan dari Konsulat Jenderal Indonesia yang berada di Australia. Penyidik Subdit Jatanras Dit Reskrimum Polda Metro Jaya juga melakukan penelusuran bekerjasama dengan Australia Federal Police (AFP).