Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Tindak Tanduk Daeng Azis Sebelum Menghilang

"Saya juga tak tahu dimana Pak Daeng Azis berada,"

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Adi Suhendi
zoom-in Tindak Tanduk Daeng Azis Sebelum Menghilang
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
Daeng Azis 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nama Daeng Azis santer terdengar setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memerintahkan jajarannya untuk menertibkan kawasan Kalijodo.

Awalnya pemilik nama Abdul Azis tersebut enggan muncul di media menyikapi langkah yang diambil Pemprov DKI Jakarta.

Namun setelah semakin santer namanya disebut sebagai pentolan Kalijodo, ia pun muncul di Media dan berbicara.

Daeng Azis muncul, saat di Kalijodo ada rapat kecil di sebuah lokasi hiburan di Kalijodo, Minggu (14/2/2016) sore.

Rapat itu diadakan usai Pemkot Jakarta Utara, Kepolisian, dan TNI mendatangi Kalijodo pada pagi harinya dan menempel surat pemberitahuan pembongkaran.

Sejumlah ketua RT, Ketua RW, serta beberapa pemilik tempat hiburan malam di Kalijodo hadir dalam rapat tersebut.

Esok harinya, Senin (15/2/2016) Daeng Azis mengambil langkah untuk mempertahankan Kalijodo dengan mendatangi Komnas HAM, Senin (15/2/2016).

Rekomendasi Untuk Anda

Saat itu, pemilik tempat hiburan malam di Kalijodo tersebut datang ke Komnas HAM menggunakan mobil Mercedez Benz keluaran tahun 2013.

Mengenakan sepatu kulit putih dengan kalung emas dan gelang emas di tangan kanannya, ia datang bersama tokoh Kalijodo lainnya.

Perwakilan warga Kalijodo saat itu Leonard Eko kepada Komnas HAM mengakui bila di wilayah Kalijodo memang ada prostitusi.

"Ada yang bilang perjudian di tempat kami. Saya jamin, selama 15 tahun, perjudian itu sudah tidak ada. Kalau prostitusi, kami siap untuk diedukasi. Bukan untuk bertemu dengan senapan," jelasnya.

Setelah melapor ke Komnas HAM, Daeng Azis bersama warga lainnya meninggalkan Komnas HAM.

Setelah ke Komnas HAM, Daeng Azis siangnnya mendatangi Gedung DPRD DKI sekitar pukul 12.35 WIB.

Namun, Azis mengalami kesulitan menemui anggota DPRD DKI.

Setelah itu, Azis dan rombongannya meninggalkan Gedung DPRD DKI.

Tidak sampai 30 menit di sana, Azis pergi tanpa berhasil menemui satu pun anggota Dewan.

Selasa (16/2/2016), Daeng Azis terlihat berada di kawasan Kalijodo dan sempat berbincang dengan wartawan.

Azis saat itu meminta agar Kalijodo jangan dibongkar.

"Warga mengais rezeki di sini. Di sini kan bukan cuma prostitusi, pengajian juga ada," kata Azis di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (16/2/2016).

Menurut dia, prostitusi terjadi karena ada desakan kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Karena itu, dia menolak kawasan tersebut ditertibkan.

Sebab, banyak warga yang menggantungkan hidupnya di tempat itu.

"Prostitusi memang ada. Pasti ada sebabnya mereka menjadi begitu. Sekarang berarti siapa yang salah sampai masyarakat jadi PSK," ujarnya.

Saat mendatangi kawasan tersebut, Azis menggunakan mobil Mercedesnya.

Dia memakai kemeja abu-abu dan topi koboi.

Ia ditemani pengacara Razman Arif Nasution, Tamin, Unarso, Leonardo Eko Wahyu, dan Muhammad Sidik selaku perwakilan 8.000 warga yang tinggal di Kalijodo.

Setelah itu, Rabu (17/2/2016) pagi Daeng Azis meninggalkan Jakarta.

Dia beralasan kepada anak buahnya pergi ke luar kota, tapi tak satu pun anak buahnya yang tahu kemana Daeng Azis pergi.

Daeng mengaku pergi keluar kota untuk mengurus tanah miliknya.

Sejak saat itu, Daeng Azis tidak pernah terlihat lagi di Jakarta.

Seorang kepercayaan Daeng Azis, Lusi mengatakan, bosnya belum juga pulang ke Jakarta hingga kini, Senin (22/2/2012).

"Saya juga tak tahu dimana Pak Daeng Azis berada," kata Lusi ketika dihubungi Wartakotalive.com, Senin (22/2/2002) sore.

Menurut Lusi, Daeng Azis belum menghubungi ponselnya lagi dan mengabarkan kapan akan pulang.

"Makanya saya juga jadi bingung ini," ujar Lusi.

Daeng Azis saat ini telah ditetapkan Polda metro Jaya sebagai tersangka.

Azis disangkakan dengan pasal 296 KUHP dan Pasal 506 KUHP, yaitu mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain dan sebagai mucikari mengambil untung dari pelacuran perempuan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti mengatakan dalam waktu dekat akan mengirimkan surat pemanggilan kepada Daeng Azis.

“Daeng Aziz akan kami panggil sebagai tersangka,” tutur Krishna Murti di Mapolda Metro Jaya.

Dia menjelaskan, penetapan status tersangka kepada pria asal Sulawesi Selatan itu terkait penangkapan Daeng Nukka, pemilik Cafe Jelita di Kalijodo.

Nukka terlebih dahulu diamankan pada hari Minggu kemarin.

“Iya (dari kasus Daeng Nukka,-red)” kata Krishna.

Sebelumnya, aparat kepolisian mengamankan Daeng Nukka atas laporan seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) berinisial N.

N diketahui akan diintimidasi apabila tak mau melayani pengunjung yang datang. (Tribunnews.com/ Wartakota)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas