Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

15 ABG Jadi Korban Prostitusi di Warung Kopi

Lima belas Anak Baru Gede alias ABG terjaring Polsek Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (11/3/2016).

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Gusti Sawabi
zoom-in 15 ABG Jadi Korban Prostitusi di Warung Kopi
Tribunnews.com/ Valdy Arief
Kapolsek Jagakarga, Kompol Sri Bhayakari saat merilis TS (50)(baju kuning), mucikari perempuan di bawah umur, di Mapolres Jagakarsa, Jakarta, Jumat (11/3/2016). 

Tribunnews.com, JAKARTA - Lima belas Anak Baru Gede alias ABG terjaring Polsek Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (11/3/2016). Mereka diduga menjadi korban prostitusi anak yang dijalani Thoriq Sulistiyo (50) sejak dua tahun terakhir.

Thoriq menjalani bisnis prostitusi anak di sebuah warung kopi. Berada di jalan Timbul IV, Jagakarsa, Thoriq tidak hanya menjadi mucikari para ABG. Sejumlah ABG pernah disetubuhi Thoriq.

"Sebagian besar ABG itu sudah disetubuhi oleh pelaku. Motif para ABG itu mau dijual hanya faktor ekonomi," ucap Kapolsek Jagakarsa Kompol Sri Bhayakari.

Menurutnya, prostitusi anak yang dijalani Thoriq terungkap setelah warga membuat laporan ke Polsek Jagakarsa. Sebab, laporan masyarakat menyebut, warung kopi Thoriq kerap disinggahi perempuan muda dengan dandanan seronok. Bahkan, para ABG ini beberapa kali dijemput orang dewasa dengan mobil.

"Kami bekerja sama dengan masyarakat, masyarakat mendapatkan laporan banyak orang tak dikenal, kita gerebek, kami amankan satu tersangka dan dua korban di sana," kata Sri.

Polisi menangkap Thoriq dengan dua anak yang menjadi korban, yakni M (15) dan R (15). Saat itu M dan R tengah menanti pelanggan untuk bertransaksi di warung. "Jadi warung kopinya itu hanya kedok saja," tambah Sri.

Operasi penggerebakan warung kopi berkedok prostitusi anak ini berhasil mengamankan barang bukti berupa memory card 4GB yang berisi foto korban dan tersangka, dua kondom, dan uang tunai Rp 700.000.

Rekomendasi Untuk Anda

Polisi menahan TS dan menjerat pelaku dengan pasal 76i Juncto Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, tentang Perlindungan Anak. Ancamannya, maksimal 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 200 juta.

Bisnis protitusi anak itu bermula dari perkenalan Thoriq dengan seorang perempuan berusia 15 tahun. Saat itu, Thoriq meminta ABG itu menggandeng sejawatnya untuk menjajakan diri. Demi memuluskan bisnis prostitusi anak, Thoriq mengiming-imingi teman perempuannya tersebut dengan uang.

"Antar korban ini (rekrutnya) dari mulut ke mulut," ujar Sri.

Bermula dari satu ABG, bisnis prostitusi ABG itu mekar. Ia akhirnya memiliki 15 ABG yang siap melayani hidung belang. Usia mereka pun seragam, yakni 15-16 tahun. Ada yang berstatus pelajar, ada pula yang putus sekolah serta pekerja kantoran.

"Ada yang merupakan warga dari sana dan ada juga yang dari luar," ujar Sri.

Transaksi Thoriq dengan pelanggan pun terbilang terbatas. Ia hanya menawari pelanggan para ABG yang dikenal dekat saja. "Pelaku tidak secara langsung mempromosikan di warung kopinya, tetapi melalui orang yang punya koneksi dengan pelaku. Jadi pelanggannya dihubungi," kata dia.

Menyangkut bilik asmara, warung kopi Thoriq hanya menyediakan satu ruangan khusus untuk berbuat mesum. Bila pelanggan tidak berkenan, ABG yang dipesan bisa dibawa keluar. Apalagi, tidak semua ABG mangkal di warung kopi Thoriq.

"Menurut keterangan ada yang dilakukan di warung tersebut dan ada yang di luar," paparnya.

"Tidak 24 jam. Kalau yang masih sekolah, sepulang sekolah dari pukul 15.00 sampai magrib. Kalau yang tidak sekolah, dari pagi sampai pukul 22.00," tambah Sri.

Thoriq mematok tarif Rp 300.000 sampai Rp 400.000 untuk sekali layanan. Ia juga menyediakan kondom untuk para pelanggan yang akan bermesum ria. Usai melayani tamu, ABG itu berbagi hasil dengan Thoriq. Biasanya, tarif dibagi dua, 50 persen untuk Thoriq, dan 50 persen untuk ABG. Namun terkadang, Thoriq mengambil hasil lebih dengan alasan biaya operasional lain.

Kanit Reskrim Polsek Jagakarsa, AKP Hari Subeno mengatakan belasan ABG yang menjadi korban Thoriq sudah diamankan ke Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Rumah Sakit Soekamto.

"Korbannya ya itu ada 15, sudah dibawa ke PPT untuk diberikan pemeriksaan psikologis," kata dia.

Ia menjelaskan, bisnis prostitusi ABG itu dilakukan Thoriq setelah bercerai dengan istri muda. Sebelumnya, Thoriq telah memiliki istri yang juga telah diceraikannya.

"Pelaku ini sudah berkeluarga, tapi sudah cerai sebanyak dua kali dan memiliki seorang anak," ungkapnya.

Seorang warga sekitar, Gianto (45) mengatakan pelaku mengontrak di wilayah tersebut sekitar lima tahun lalu. Saat itu pelaku tinggal bersama istri muda. Kondisi ekonomi yang loyo membuat istri muda Thoriq angkat kaki dari kontrakan. Padahal, saat itu istri muda Thoriq baru memiliki anak.

Kehidupan pelaku lalu berubah. Ia lalu meminta izin warga untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai usaha mencari rezeki. Warga yang tak tega dengan kehidupan pelaku pun mengizinkan. Saat itulah pelaku mendirikan warung klongtong di wilayah tersebut.

"Pada saat itu jual-jual aqua. Kami juga sering beli waktu itu. Jadi dia (pelaku) tinggal di warung itu. Rumah aslinya ada di Jalan Meninjo, Jagakarsa itu istri tuanya. Tapi enggak lama warung itu tutup," tuturnya.

Setelah warung tutup, warga justru dikagetkan dengan kehadiran pelajar SMP yang kerap berkumpul di lokasi. Awalnya hanya ada satu hingga dua orang. Seiring berjalan waktu pelajar tersebut kian bertambah menjadi belasan.

"Kita di situ mulai curiga. Tapi enggak mau grebek karena belum ada bukti dan bukan wewenang kita. Akhirnya kita lapor ke polsek dan ke kelurahan," ungkapnya. (tribunnews/warta kota/kompas.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas