Sandiaga Uno Paling Pantas Mewakili Gerindra dalam Pilkada Jakarta
Sandiaga berpeluang kecil menjadi kutu loncat ketika terpilih menjadi pemimpin Jakarta nanti.
Penulis:
Muhammad Zulfikar
Editor:
Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Gerindra saat ini masih menggodok nama-nama Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur untuk diusung dalam Pilkada DKI Jakarta.
Saat ini, ada tiga nama yang muncul dimasyarakat untuk mewakili partai berlambang kepala burung garuda tersebut yakni Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, dan Mayjen TNI Purnawirawan Safrie Syamsuddin.
Pengamat politik Universitas Jayabaya, Igor dirgantara menilai dari tiga nama tersebut, sosok Sandiaga Uno yang paling pantas untuk mewakili Partai Gerindra dalam Pilkada DKI Jakarta nanti.
Sebab, Sandiaga berpeluang kecil menjadi kutu loncat ketika terpilih menjadi pemimpin Jakarta nanti.
"Sandi Uno paling pantas mewakili Gerindra dalam Pilkada Jakarta. Apalagi peluang Sandi berprilaku 'kutu loncat' sangat kecil ke depannya seperti yang dilakukan oleh Ahok. Sandi lebih loyal terhadap Partai Gerindra. Jangan lupa, saat ini Jakarta butuh pemimpin baru yang juga ikhlas menuntaskan masa jabatannya sebagai Gubernur selama 5 tahun, jika terpilih," kata Igor di Jakarta, Rabu (25/5/2016).
Selain itu, menurut Igor, Sandi Uno adalah sosok yang paling muda diantara yang lainnya.
"Selain santun dan good looking, Prabowo Subianto sendiri pernah mengatakan bahwa salah satu ciri pemimpin ideal adalah yang gagah dan 'ganteng' seperti Salahuddin Al-Ayyub.
"Pemimpin muda memang selalu menjadi wabah positif sejak era revolusi kemerdekaan sampai pilkada serentak Desember 2015 lalu, dimana beberapa daerah sudah memperlihatkan transformasi kepemimpinan kepada yang muda untuk diberi kesempatan menjadi pemimpin lokal di daerahmya," ujarnya.
Bahkan, saat ini hanya nama Sandi Uno yang masuk radar salah satu bakal calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebab saat ini, Gerindra punya 15 kursi di DPRD DKI Jakarta.
Untuk bisa mengusung calon, perlu minimal 22 kursi. Artinya, Gerindra butuh tambahan 7 kursi dari partai lain. Sementara PKS memiliki 11 kursi di DPRD.
"PKS adalah mitra terkuat untuk berkoalisi dengan Gerindra di Pilgub DKI 2017, dengan total 26 kursi untuk memantapkan pasangan calon dari kedua partai tersebut. Sudah lebih dari cukup dan ideal, baik dalam aspek kepentingan dan ideologis Koalisi Merah Putih," ujarnya.
Namun begitu, Sandi Uno juga bisa dipasangkan sebagai Cawagub jika Gerindra berkoalisi dengan PDIP yang mempunyai 28 kursi. "Disini kelebihan Sandi Uno, fleksibilitasnya," katanya.
Selain itu, Sandi Uno adalah kader Partai Gerindra. Pilihannya lewat jalur partai konsisten melawan arus negatif 'deparpolisasi' yang berhembus kencang atas konsekuensi majunya Ahok sebagai petahana di jalur 'independen'. Sebagai kader asli dari Partai Gerindra, mesin partai akan solid bekerja maksimal.
"Sandi Uno yang paling serius maju di Pilgub DKI 2017, tanpa permusuhan dalam menyerang pribadi Ahok, kecuali program kerjanya untuk warga DKI Jakarta. Apalagi Sandi Uno juga sudah menggaet mantan ketua tim komunikasi (media center) Jokowi-Ahok (2012), Budi Purnomo Karjodihardjo sebagai koordinator media centernya. Keseriusan yang dibuktikan dengan kerja nyata adalah poin penting yang dilihat penduduk Jakarta," ujar Igor.
Dan yang terakhir lanjut Igor, Sandi Uno adalah antitesa Ahok, baik dari segi sosiologis, identitas dan karakternya.
Citranya lebih bisa dipoles dan dibentuk, seperti halnya dulu Jokowi, dari kurang dikenal, menjadi diikenal, dan disukai warga DKI.
"Sebagai ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Sandi Uno punya program ekonomi kerakyatan yang cocok bagi Jakarta. Personal brandingnya jauh lebih positif ketimbang negatifnya. Sandi Uno paling pas dicalonkan oleh Partai Gerindra," ujarnya.