Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Begini Cara Kerja Jaringan Perdagangan Anak Diiming-imingi Pekerjaan Gaji Besar

Rencananya R,D dan A hendak dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK).

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Begini Cara Kerja Jaringan Perdagangan Anak Diiming-imingi Pekerjaan Gaji Besar
Kompas.com
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seorang gadis berinisal R (16), tiba-tiba-tiba saja menghilang, bersamaan dengan D (13) yang merupakan teman main R.

Belakangan diketahui ketiganya ternyata dibawa ke Pasaman, Sumatera Barat, untuk bekerja di sebuah kafe mesum.

Keduanya diketahui berangkat ke Pasaman, Sumatera Barat pada 25 Agustus lalu, bersama A (18) dan seorang perempuan yang dipanggil Butet, yang merupakan pemilik kafe mesum tersebut.

Rencananya R,D dan A hendak dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK).

Namun beruntung pada 31 Agustus lalu Polisi sudah lebih dulu menggerebek tempat tersebut, sebelum ketiganya dijadikan PSK.

Bundari, ayah dari R, mengaku tidak habis pikir anaknya bisa sampai menjadi korban perdagangan anak.

Yang ia tahu anak ke tiga dari enam bersaudara yang hanya lulusan SMP itu, hendak pergi menginap ke kediaman D di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, yang lokasinya tidak jauh dari kediamannya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Katanya mau menginap, ya memang sudah biasa. Saya teleponin tiap hari, tahu-tahu setelah empat hari enggak bisa ditelepon," ujar Bundari kepada wartawan, di kantor Komisi Nasional Perlindungan anak (KomnasPA), di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (6/9/2016).

Setelah Bundari menyambangi kediaman D untuk mencari tahu kabaw putrinya itu, ia kemudian mengetahui bahwa R dan D sudah berangkat ke Pasaman, Sumatera Barat, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Keluarga D pun bingung mengapa putri mereka yang baru duduk di bangku kelas 2 SMP dan R bisa sampai ke Pasaman.

Belakangan dari putrinya Bundari mengetahui, bahwa awalnya anaknya itu diajak oleh D untuk pergi ke Sumatera Barat, untuk bekerja dengan bayaran yang menggiurkan.

D menawarkan hal itu setelah sebelumnya ia ditawari hal serupa dari A (18), teman baik D yang tinggal di komplek kos-kosan di Depok, Jawa Barat.

"Anak saya ditawari katanya kerja sebentar, bisa langsung beli mobil. Anak saya namanya polos, ya mau-mau saja," ujarnya.

Mafrizal, dari Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Sumatera Barat, yang ikut menyelamatkan para korban, dalam kesempatan yang sama menambahkan bahwa A adalah teman main dari D, yang sempat tinggal tak jauh dari kediaman D.

Oleh karena itu A bisa mengenal D, walaupun tidak mengenal R.

"Nah si A ini ngekos di Kelapa Dua, di Depok, dia kosannya dekat dengan Eka, si Eka ini yang menawari pekerjaan itu ke A," katanya.

Eka sendiri adalah putri dari seorang perempuan yang dipanggil Butet, yang memiliki kafe Rimbo, di tengah-tengah kebun Sawit di kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Butet adalah orang yang mengatur keberangkatan R,E dan A ke Pasaman, dan berencana menjadikan ketiganya PSK di kafe mesum miliknya.

Dalam penggerebekan pada 31 Agustus lalu oleh Polres Pasaman, Polisi berhasil menyelamatkan R, D dan A. Selain itu Polisi juga mengamankan Butet di kafe mesum tersebut.

Mafrizal mengatakan sampai saat ini, belum semua pelaku berhasil ditangkap, salah satu yang masih lolos adalah EKa, yang tugasnya mencari mangsa untuk diperdayai.

Kata dia, selain R, D dan A, diduga masih banyak korban lainnya. Hal itu diketahui peneluuran PBHI Sumatera Barat.

"Jadi di tempat itu pekerjanya berganti-ganti setiap dua minggu, rata-rata empat orang, nah bayangkan sudah berapa banyak yang jadi korban. Kami berharap jaringan ini dibongkar semua," ujarnya.

"Kami juga dapat informasi, bahwa jaringannya bukan cuma di Pasaman dan Jakarta saja, tapi ada juga di Lampung, di Batam, bahkan di Bali," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas