Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pilgub DKI Jakarta

Kisah Putri Cantik Anies Baswedan yang Diserang 'Haters' Ayahnya

Anak sulung Anies, Mutiara Annisa Baswedan (19), termasuk orang yang kerap mendapatkan serangan dari haters ayahnya.

Kisah Putri Cantik Anies Baswedan yang Diserang 'Haters' Ayahnya
The Jakarta Post/Dhoni Setiawan
Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah) bersama istri dan anaknya memberikan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 28, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017). Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta menyelenggarakan pemungutan suara di 13.032 TPS dalam Pilkada putaran kedua DKI Jakarta. (JP/Dhoni Setiawan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan Anies Baswedan untuk maju dalam Pilkada DKI 2017 tak dipungkiri membuatnya banyak mendapatkan serangan politik.

Celakanya, serangan itu tidak cuma berdampak terhadap Anies dan tim kampanyenya, tetapi juga terhadap keluarga dekatnya.

Anak sulung Anies, Mutiara Annisa Baswedan (19), termasuk orang yang kerap mendapatkan serangan dari orang-orang yang merupakan "haters" ayahnya.

Mutiara mengatakan, ia kerap dicibir selama masa kampanye Pilkada DKI.

"Banyak orang yang men-judge Abah tanpa kenal langsung dengan Abah. Dan banyak framing dari media juga yang memutarbalikkan juga," kata Mutiara saat ditemui usai memberikan hak pilihnya di TPS sekitar rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017).

Mutiara menyatakan bahwa ia lebih mengenal ayahnya ketimbang para haters.

Karena itu, ia mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai cibiran tersebut.

Sebab, ia yakin ayahnya tidak seperti yang dituduhkan dan dicibir oleh haters itu.

"Semua orang pasti ada komentar baik dan komentar buruk. Banyak juga sih yang nyemangatin aku, nyemangatin Abah," ujar dia.

Saat memberikan hak pilihnya, Mutiara pergi beserta ayah dan ibunya, Fery Farhati Ganis.

Mutiara menilai, Pilkada DKI merupakan pesta demokrasi yang mana setiap orang bebas untuk menentukan pilihannya.

Karena itu, ia berharap tidak ada pihak yang mempersalahkan pihak lain yang berbeda pilihan dengannya.

"Jadi harusnya orang-orang jangan terlalu baper-lah sama pilihan-pilihannya. Jadi kita harus bisa menerima kalau ada orang yang berbeda dengan kita," ujar mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

KOMPAS.com/Alsadad Rudi

Editor: Rendy Sadikin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas