Tribun

Memasuki Musim Hujan Warga Bantaran Waduk Pluit Khawatir Longsor

Warga bibir Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara khawatir longsor terjadi di musim penghujan tahun ini.

Editor: Samuel Febrianto
zoom-in Memasuki Musim Hujan Warga Bantaran Waduk Pluit Khawatir Longsor
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Foto aerial suasana Waduk Pluit yang terus dipercantik, pengerukan waduk Pluit di sisi barat masih dilakukan untuk pengembangan potensi wisata air, di Jakarta, Sabtu (12/5/2018). Pengerukan dilakukan sedalam 10 meter, namun saat ini sisi barat waduk baru dikeruk sedalam 3 meter. Dengan dikeruk, warga dapat memanfaatkan secara maksimal wisata air di Waduk Pluit dengan menggunakan perahu. Wisata air, melengkapi berbagai fasilitas yang sudah dimiliki di Taman Waduk Pluit, seperti lapangan olahraga dan tempat pertunjukan. Debit air di waduk juga terus dijaga dengan level, selalu minus 180 cm di bawah permukaan laut karena selain bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata, Waduk Pluit juga menjadi pintu terakhir dari penampungan air apabila Jakarta banjir. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Warga bibir Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara khawatir longsor terjadi di musim penghujan tahun ini.

Pasalnya, sebagian bibir Waduk Pluit yang belum diturap berpotensi longsor.

"Saya kan rumahnya itu tepat di pinggir Waduk Pluit yang bagian belum diturap (sheetpile) ya. Cuma, kalau mau diturap ya katanya dirubuhin dulu rumahnya, tapi kalau enggak diturap juga bikin ketar-ketir juga. Karena, musim hujan gini memang yang saya takutkan selain waduknya meluap, ya tanahnya longsor. Dilema juga pak," ucap Asih (40) warga bibir Waduk Pluit kepada Warta Kota Minggu (11/11/2018).

Asih tinggal belasan tahun di bibir Waduk Pluit, bersama suaminya dan empat anaknya. Diakui Asih, rumahnya yang kini berdiri di bibir waduk itu diketahui peninggalan kedua orangtuanya.

"Yah namanya peninggalan orangtua (rumah) ini. Ya mau enggak mau saya jaga. Tetapi kata saya tadi, ngeri kalau-kalau longsor pak. Kalau tinggal di rumah susun (rusun) saya tidak mau ya maunya pemerintah bantu lah perkokoh lagi rumah warga di sini dan waduk pluitnya. Kalau beli rumah atau ngontrak, mana mampu saya," ungkapnya.

Hal yang sama diungkapkan Deri (39), sebagai warga yang tinggal di bibir Waduk Pluit. Diakui Deri yang tinggal lebih dari 10 tahun di pinggir Waduk Pluit, jika sedimen lumpur yang saat ini mengeras lama-lama terlihat mengecil karena terkikis hujan.

"Memang sih, sedimen lumpur yang mengeras itu lama-lama jadi mengecil jika terkena hujan. Kalau ketar-ketir ya ada saja rasa itu. Tapi mau dimana lagi kami tinggal pak. Sebenarnya juga saya mau pindah enggak ada uang. Pindah ke rusun saya enggak mau. Malas paak. Numpuk banget, sempit," jelas Deri.

Pantauan Warta Kota, nampak sebagian bibir Waduk Pluit belum juga dinormalisasikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Di lokasi terlihat tumpukan sedimen lumpur yang mengeras, dijadikan warga sebagai sejak lama untuk mendirikan rumah.

Bahkan, ada sebagian warga yang menjadikan sedimen lumpur itu sebagai halaman belakang rumah, tempat menjemur pakaian, dan tempat menaruh kandang hewan peliharaan.

Warga memanfaatkannya untuk menanam sayur mayur seperti kangkung dan bayam.

Sementara itu Camat Penjaringan, Mohammad Andri mengungkapkan bahwa masih ada 5000-an kepala keluarga (kk) berhuni di pinggiran Waduk Pluit.

Mengenai kapan akan menurap bibir Waduk Pluit, Andri mengaku tidak mengetahuinya.

"Tanyakan pihak Dinas SDA (Sumber Daya Air), terkait penurapan sebagian Waduk Pluitnya itu ya. Wacana tersebut (Menurap Waduk Pluit) ini memang belum ada. Lagipula rumah susun itu belum ada. Jika dilakukan turap, sekitar 5000-an kk di sana harus direlokasikan dulu," papar Andri kepada awak media. (BAS)

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Musim Hujan, Warga Bantaran Waduk Pluit Ngeri Longsor

Baca: Waduk Pluit Alternatif Tempat Rekreasi Wisata Air

Baca: Warga Pinggiran Waduk Pluit Waswas, Takut Rumahnya Ambruk

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas