Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Impian Maya Ingin Segera Terwujud,Sekolah Lagi Seperti yang Lain

Sejak kematian ayahanda tercintanya empat tahun lalu, Maya terpaksa berhenti bersekolah memilih bekerja membantu sang ibu mencari uang

Impian Maya Ingin Segera Terwujud,Sekolah Lagi Seperti yang Lain
TRIBUNNEWS.COM
Gadis kecil ini bernama Maya yang punya impian kelak, bisa sekolah lagi seperti yang lain. 

Laporan wartawan magang Yosi Vaulla Virza
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Wajahnya yang selalu ceria. Panas dan hujan tak menjadi rintangan baginya untuk bisa bertahan hidup, mengais rejeki demi wujudkan impiannya kelak. Maya, usainya yang masih belia tak merasa malu, meski harus berjualan tisu di pinggir jembatan penyeberangan yang terletak di salah satu sudut ibu kota.

Sejak kematian ayahanda tercintanya empat tahun lalu, Maya terpaksa berhenti bersekolah memilih bekerja membantu sang ibu mencari uang untuk membantu perekomomian keluarga.

Baca: Temui Presiden Jokowi di Istana Bogor, PM Belanda Mark Rutte Kenakan Batik

Maya bercerita, menjadi seorang anak jalanan penjual tisu bukanlah pilihan. Namun, melihat sang ibu harus bekerja sendirian sebagai pemulung membuatnya iba dan terpaksa harus ikut mencari rejeki. "Mau bagaimana lagi. Aku harus bantu ibu jualan ini untuk dapat uang" ujarnya saat ditemui.

Sesekali Maya membereskan tisu- tisu dagangannya. Maya berangkat dari rumahnya dibilangan Tanjung Duren, pukul 07.00 WIB bersama ibunya, naik angkot dan turun di pinggil jalan.

Baca: Susi: Bapak-bapak dan Ibu-ibu Masih Tetap kan Berteman dengan Saya Meski Tak Jadi Menteri Lagi?

Pada pagi hari, cerita Maya setiap hari ia harus ibunya memulung botol minuman dan kardus di salah satu perguruan tinggi di Jakarta Barat. Siangnya, ia menjual tisu dagangannya. Maya mengaku, sengaja berjualan agak siang, menghindar kejaran Satpol PP. "Kalau pagi itu biasanya banyak Sapol PP. Suka di tangkap," kata Maya tertawa kecil.

Salain di dekat jembatan penyeberangan, gadis berkulit hitam manis ini juga kerap berjualan di kampus tempat ibundanya memulung. Ia berkeliling dari satu fakultas ke fakultas lainnya, menjajakan tisu dagangannya kepada mahasiwa atau mahasiswa  yang ditemui.

Tidak jarang saat berjualan di kampus Maya malah diusir oleh satpam, kadang sampai dimarahi.Tak jarang, Maya juga kerap kejar-kejaran dengan Satpol PP saat berjualan.

Baca: Polres Kulon Progo Kenalkan Alwa, Aplikasi untuk Warga yang dalam Keadaan Darurat

Bahkan, tidak hanya sekali ia ditangkap oleh Sapol P. Saat di tangkap ia mengaku akan di bawa ke tempat yang jauh dan asing baginya.

"Pernah kak aku ditangkap oleh Sapol PP, terus dibawa ke tempat yang jauh,aku ngga tau itu dimana. Di kumpulin sama anak-anak yang lainnya, terus di marahin," cerita Maya lirih.

Baca: Beda Nasib Ario Kiswinar setelah Tak Diakui Mario Teguh, Jadi Guru di Sekolah Internasional & CEO

Cerita lain yang membuatnya sedih. Saat ia asik menghitung uang hasil berjualan, seketika langsung hilang. Anak-anak jalanan langsung mengambil uangnya. Sehari, aku Maya ia bisa menjual tisu sampai 30 bungkus.

"Kalau belum habis aku biasanya pulang lebih malam kak, ya kalau belum habis juga ya terpaksa bawa pulang.Di jual ke esokan harinya lagi," ungkap Maya yang biasa pulang ke rumah sekitar pukul delapan malam.

Maya melanjutkan ceritanya, ia teringat kejadian dua minggu yang lalu. Pada saat dia menjajakan tisu dagangannya di sekitar lampu merah, ada seorang laki- laki baik hati yang membeli habis semua dagangannya.

"Bapak-bapak, baik banget, dia beli semua tisu aku yang tersisa. Jadi aku bisa pulang cepat. Aku senang banget waktu itu," kenangnya seraya berharap hal serupa bisa terulang.

Baca: Kabinet Baru, Jokowi Didesak Utamakan Menteri dari Partai Koalisi, Gerindra Ideal Jadi Oposisi

Saat ditanya apakah ia ingin bersekolah lagi, gadis berambut ikal ini menjawab dengan semangat. Bisa kembali ke bangku sekolah, belajar dan bermain adalah impiannya. "Mau banget kak kalau disuruh sekolah lagi, belajar lagi, ketemu sama teman- teman," kata Maya penuh harap.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Rachmat Hidayat
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas