Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Wawancara Khusus Gubernur DKI Anies Baswedan: #TinggaldiRumah dan Masker Kunci Sukses Redam Covid-19

Justru yang kami kerjakan adalah mengonsolidasikan 41 laboratorium, jadi kami bukan membeli PCR sebanyak-banyaknya

Wawancara Khusus Gubernur DKI Anies Baswedan: #TinggaldiRumah dan Masker Kunci Sukses Redam Covid-19
Tribunnews.com/Danang Triatmojo
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan usai hadiri rapat paripurna di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2020). 

TRIBUNNEWS.COM -- ANIES Baswedan telah menjabat sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta selama dua tahun delapan bulan atau sejak 16 Oktober 2017. Secara bertahap, janji kampanyenya mulai ditunaikan.

Salah satu konsep yang sering digaungkan adalah open government
(pemerintahan yang terbuka), yang berpijak pada tiga poin yakni transparansi,
partisipasi dan kolaborasi. Ia mengklaim sudah menerapankan dalam menanggulangi
pandemi Covid-19.

Berikut wawancara eksklusif redaksi Warta Kota dengan Gubernur Provinsi DKI Jakarta
Anies Baswedan.

Tanya: Apakah konsep open government sudah mulai berjalan di tengah masyarakat?
 

Jawab: Konsep itu sudah berjalan. Sebagai contoh kami membangun jaringan
transportasi. Bukan pemprov yang membangun jaringan bus kecil, tapi yang dibangun
adalah JakLingko untuk berkolaborasi. Dari situ, jumlah armadanya melonjak tinggi
karena kami bermitra dengan Transjakarta.

Contoh lain, adalah papan informasi transportasi untuk memudahkan masyarakat dan
wisatawan mancanegara dan domestik yang ada di sejumlah halte. Misalnya di Jalan
Sudirman, di sana akan ketemu halte bus. Selama ini kita mengasumsikan orang ke
halte itu tahu rute bus atau peta transportasi di Jakarta. Padahal belum tentu mereka
tahu.

Baca: Hasil Swab Bayi yang Dilahirkan dari Ibu yang Positif Covid-19 di Pasaman Dinyatakan Negatif

Sekarang di setiap halte itu ada informasi lengkap dan rute bus serta petanya
dijelaskan. Itu tidak dibuat oleh DKI, tapi dibuat oleh Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ), hasil kolaborasi.

Mereka punya ide dan kami undang untuk kolaborasi, menjadikan mereka sebagai
wayfinding (penunjuk jalan), dan kami yang mengerjakan. Tapi rumusannya dibantu oleh mereka.

Bagaimana penerapan open government saat pandemi Covid-19 ini?

Ketika masa pandemi, bisa saja kami bikin laboratorium sebesar-besarnya, tapi nggak
begitu. Justru yang kami kerjakan adalah mengonsolidasikan 41 laboratorium, jadi kami bukan membeli PCR sebanyak-banyaknya, tapi yang sudah ada kita kerjakan dalam sebuah kolaborasi.

Halaman
1234
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Warta Kota
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas