Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Banjir Terjang Cilandak, Warga Tahan Lapar, Sahur dan Buka Puasa Hanya Dengan Air Putih

Meski telah menyiapkan hidangan buka puasa, semuanya terpaksa ditinggalkan karena air semakin tinggi dan waktu semakin sempit. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Fersianus Waku
zoom-in Banjir Terjang Cilandak, Warga Tahan Lapar, Sahur dan Buka Puasa Hanya Dengan Air Putih
Tribunnews.com/Fersianus Waku
BANJIR CILANDAK TIMUR - Jumiko (60), warga Jalan NIS, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, saat ditemui di depan rumahnya yang masih tergenang banjir pada Selasa (4/3/2025). Banjir yang mengepung wilayah tersebut membuatnya belum sempat buka puasa dan sahur pada hari itu. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banjir yang melanda kawasan RT 03 dan RT 09, Kelurahan Cilandak Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, hingga Selasa (4/3/2025) pagi, bukan hanya menenggelamkan rumah, tetapi juga menghancurkan harapan sederhana dalam menjalani ibadah puasa Ramadan.

Di tengah derita banjir, Jumiko (60), seorang warga yang tinggal di Jalan NIS, Cilandak Timur, harus menghadapi kenyataan pahit.

Sejak kemarin, ia belum sempat berbuka puasa dengan makanan, bahkan sahur pun terlewat.

Jumiko hanya mampu meneguk air putih untuk mengisi perut yang kosong.

"Saya belum buka puasa sejak kemarin, tadi juga belum sahur, cuma minum air putih," ujar Jumiko pelan, ketika ditemui di rumahnya yang masih terendam air pada pagi hari.

Banjir yang datang mendalam, begitu cepat dan tanpa ampun, memaksa Jumiko dan keluarganya untuk segera mengungsi.

Meski telah menyiapkan hidangan buka puasa, semuanya terpaksa ditinggalkan karena air semakin tinggi dan waktu semakin sempit. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Kemarin sempat mau buka, tapi airnya sudah naik, jadi langsung buru-buru keluar. Alhamdulillah saya bisa tahan," lanjutnya dengan senyum yang penuh ketabahan.

Baca juga: Sore Ini Prabowo Kumpulkan Semua Pejabat ke Istana Kepresidenan

Di tengah cobaan berat ini, bantuan makanan memang datang, termasuk dari para tetangga yang penuh empati.

Namun, sebagai kepala keluarga, Jumiko memilih untuk memberikan sebagian makanan itu kepada istri dan anak-anaknya.

"Saya lebih pilih kasih ke mereka. Saya masih bisa bertahan, Insya Allah kuat," tambahnya dengan penuh keyakinan.

Cerita Jumiko adalah kisah tentang ketahanan dan pengorbanan, tentang bagaimana seorang ayah dengan sabar menahan lapar demi keluarganya, bahkan saat musibah datang menghimpit.

Di balik kesulitan yang melanda, masih ada cahaya harapan dan rasa syukur yang tak pernah padam.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas