Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Curhat Kurir di Tengah Kenaikan Harga BBM: Isi Pertalite Antre, Pertamax Bikin Tekor

Kurir logistik Junet terhimpit kenaikan harga Pertamax, biaya operasional tekor, gaji Rp3,8 juta makin terasa berat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Curhat Kurir di Tengah Kenaikan Harga BBM: Isi Pertalite Antre, Pertamax Bikin Tekor
Tribunnews.com/Alfarizy Ajie Fadhillah
PENGISIAN BBM : Junet, seorang kurir logistik, mengisi BBM jenis Pertamax di SPBU 3412703, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026). Pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, yang memicu peningkatan biaya operasional bagi kurir dengan target pengiriman hingga 250 paket per hari. (Tribunnews/Alfarizy) 

Ringkasan Berita:
  • Junet, kurir logistik di Jakarta Selatan, merasakan dampak kenaikan harga Pertamax saat hanya mendapat 1,84 liter dari Rp30.000. 
  • Dengan gaji Rp3,8 juta dan cicilan motor, biaya operasional harian Rp20.000 kini tak mencukupi. 
  • Ia terpaksa berhemat, membawa bekal dari rumah, berharap harga BBM kembali normal

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di bawah terik matahari Jakarta Selatan yang mulai menyengat pada Rabu siang (10/6/2026), Junet, seorang kurir logistik berdiri mematung di depan dispenser BBM nomor 8 SPBU Pasar Minggu. 

Matanya tak lepas dari angka digital yang bergerak cepat di mesin dispenser, namun berhenti terlalu cepat di kantongnya.

Ia baru saja menyodorkan uang Rp30.000. Biasanya, angka itu cukup untuk membuat bar bensin di motornya naik signifikan.

Namun hari ini, layar dispenser hanya menunjukkan 1,84 liter bensin Pertamax yang mengalir ke tangki motor Honda Beat-nya.

"Waduh, bukan berasa lagi, nangis! Semalam mau ngisi (Pertalite) antrenya minta ampun, duit juga belum pegang. Ini saja pakai duit COD dulu buat narik," ujar Junet sambil merapikan paket yang akan diantarnya. 

Meski harga Pertamax naik hampir Rp4.000 per liter, Junet merasa terjebak dalam pilihan sulit.

Rekomendasi Untuk Anda

Motor yang ia gunakan untuk mencari nafkah adalah model tahun 2025 yang cicilannya masih tersisa dua tahun lagi.

"Tadinya pakai Pertalite, tapi tarikan kurang enak. Orang bilang kalau motor baru bagusan Pertamax biar mesin enggak kotor. Jadi ya terpaksa tetap isi Pertamax walau naik, daripada mesin rusak," jelasnya.

Namun, pilihan menjaga performa mesin ini harus dibayar mahal. Uang bensin operasional dari perusahaan sebesar Rp20.000 per hari kini terasa sangat tidak mencukupi atau "tekor".

Untuk menyiasati pembengkakan biaya, Junet harus memangkas pengeluaran pribadinya.

"Bukan sedikit lagi (bensinnya), malah tekor. Makanya sekarang bekal nasi bawa dari rumah terus, dibekalin buat hemat," katanya.

Baca juga: Harga Pertamax Naik Rp 16.250 Per Liter, Komisi XI DPR: Pasti Diikuti Kenaikan Inflasi

Sebagai kurir, Junet memiliki beban kerja dengan target pengiriman mencapai 200 hingga 210 paket pada hari normal.

Saat masa promosi (campaign), target tersebut meningkat menjadi 250 paket per hari. 

Dengan gaji pokok sebesar Rp3,8 juta per bulan, kenaikan harga BBM ini menambah beban finansial di tengah cicilan motor yang masih tersisa dua tahun lagi.

Junet berharap pemerintah dapat mengembalikan harga ke level normal agar pengeluaran operasional para pekerja lapangan tidak semakin membengkak. 

"Mudah-mudahan turun lagi ke Rp12.000. Kita mah rupiah saja susah nyarinya sampai empet-empetan begini. Orang-orang enak tinggal duduk manis, lah kita di lapangan pahit, manis, asin, sudah nano-nano rasanya," pungkas Junet sebelum kembali memacu motornya menembus kemacetan Jakarta.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas