Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Soal Gafatar, Ketua MPR: Jangan Musuhi Pengikut, Mereka Hanya Korban

Ketua MPR Zulkifli Hasan bilang para pengikut Gafatar hanya korban. Sebaliknya, para pemimpin atau mereka yang mengajak bergabung yang harus ditindak

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Soal Gafatar, Ketua MPR: Jangan Musuhi Pengikut, Mereka Hanya Korban
MPR RI
Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. 

TRIBUNNEWS.COM — Maraknya aksi pemahaman agama yang melenceng seperti Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) membuat Ketua MPR Zulkifli Hasan turut buka suara.

Ketika bebicara usai pelantikan National Board Director Junior Chamber Indonesia (JCI) di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (29/1/2016), Zulkifli menghimbau masyarakat tidak memusuhi para pengikut Gafatar karena mereka hanya korban.

Sebaliknya, menurut Ketua MPR  tersebut, yang terpenting para penegak hukum bisa menindak para pemimpin Gafatar atau mereka yang mengajak bergabung.

“Kita harus bantu mereka. Kita harus memberi pertolongan dan perlindungan kepada mereka sebagai korban Gafatar,” tegas Zulkifli Hasan.

Lebih lanjut ia mengatakan, persoalan Gafatar jangan dianggap enteng. Ia mencontohkan keluarga dr. Rika yang sebelumnya harmonis berubah setelah ikut Gafatar.

“Mereka adalah korban yang harus kita selamatkan bersama-sama. Termasuk keluarga dan anak-anaknya. Ayo, kita tolong. Mereka adalah korban dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka yang tidak bertanggungjawab itu yang harus ditindak,” tambah Zulkifli.

Sementara itu, terkait paham radikal yang sudah masuk buku pelajaran anak-anak, Ketua MPR itu meminta pemerintah memusnahkan buku-buku yang berisi paham radikal yang disusupkan.

Rekomendasi Untuk Anda

“Kita ganti dengan budaya Indonesia,” katanya.

Di samping itu, ia menyesalkan buku-buku pelajaran seperti Civic, Kewarganegaraan, Pendidikan Moral Pancasila, sudah tidak ada lagi sekarang . Sebaliknya, muncul buku-buku yang isinya mendorong sikap radikal.

“Setelah 18 tahun Reformasi, kita kehilangan roh kebangsaan. Ini harus diperkuat kembali, terutama dari wawasan kebangsaan anak-anak muda. Jangan terkecoh janji Surga atau jihad yang tidak jelas. Bom bunuh diri bertentangan dengan wawasan kebangsaan, Pancasila dan prinsip-prinsip hidup kita,” pungkasnya. (advertorial)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas