Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kasus Covid-19 Terus Meningkat, Wakil Ketua MPR RI: Pemerintah Kurang Kompak Melaksanakan Kebijakan

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini menilai bahwa kesuksesan penanganan Pandemi Covid-19 sangat tergantung pada Pemerintahnya.

Kasus Covid-19 Terus Meningkat, Wakil Ketua MPR RI: Pemerintah Kurang Kompak Melaksanakan Kebijakan
Tribunnews/Jeprima
Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan rutin pada warga yang berada di tempat penampungan sementara penanganan Covid-19 di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2020). Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Demokrat, Syarief Hasan menyatakan keprihatinan terhadap menajemen Pemerintah dalam menanggulangi Pandemi Covid-19. Pasalnya, sampai saat ini, pertumbuhan kasus di Indonesia masih sangat tinggi di atas 1.000 kasus sehingga total kasus terkonfirmasi menjadi 115.056 orang pada (4/8/2020).

Menurutnya, pernyataan Presiden Joko Widodo beberapa waktu belakangan terkait kementerian dan lembaga negara yang bekerja sendiri-sendiri menunjukkan kurang kompaknya Pemerintah hari ini. Padahal keberhasilan beberapa negara dalam menanggulangi Pandemi Covid-19 tak terlepas dari peran bersama dan saling bahu-membahu antar lembaga.

Ia juga melihat bahwa kinerja Menteri yang notabene adalah pembantu Presiden sangat kurang. Bahkan, Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan terkesan mengurusi hal-hal teknis seperti contoh cara sosialisasi pemakaian masker dan jaga jarak yang seharusnya bisa dikerjakan oleh Menteri terkait. Yang paling terlihat, beberapa kali Presiden Jokowi menegur kementerian/lembaga yang dianggap kurang memiliki sense of crisis, terutama yang lamban dalam penyerapan anggaran penanganan.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini menilai bahwa kesuksesan penanganan Pandemi Covid-19 sangat tergantung pada Pemerintahnya. Sebab, Pemerintah memiliki sumber daya yang besar dan kemampuan intervensi pada setiap kebijakan-kebijakan di Indonesia.

“Angka positif harian yang tinggi menunjukkan kurang efektifnya berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah,” ungkap Syarief.

Memang, di beberapa negara termasuk negara-negara yang tergabung dalam ASEAN telah berhasil menekan penyebaran Covid-19. Praktis, hanya Indonesia yang masih memiliki peningkatan kasus tajam di wilayah Asia Tenggara. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah di masing-masing negara.

Syarief Hasan pun memberikan contoh peran sentral kepala pemerintahan di beberapa negara. Perdana Menteri Malaysia misalnya, sejak mengalami penyebaran di awal Maret, ia langsung mengambil kebijakan lockdown untuk menutup ruang masuknya pembawa virus ke negara tersebut. Akhirnya, Malaysia mampu menekan angka positif Covid-19 dan menjaga pertumbuhan ekonominya

Tak hanya PM Malaysia, Presiden Turki pun mengambil kebijakan lockdown di setiap akhir pekan dan aturan ketat tinggal di rumah bagi anak-anak dan lansia. Kebijakan ini berhasil menekan angka positif di Turki.

“Pemerintah harus belajar dari negara lain dalam hal kekompakan menyelesaikan Pandemi Covid-19,” ungkap Syarief.

Ia juga mengaku heran. Sebab menurutnya, Indonesia memiliki budaya gotong royong yang sangat kental. Namun, budaya tersebut belum tergambarkan dalam pengelolaan oleh Pemerintah dalam penanggulangan Pandemi. "Gotong royong harusnya menjadi ruh dalam sistem kerja di Pemerintahan," ungkapnya.

“Antar kementerian dan lembaga harus bersatu padu dan mengedepankan kepentingan bersama agar Pandemi ini segera teratasi. Presiden juga harus tahu masalah yang terjadi agar bisa mengambil kebijakan yang efektif dan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah, bukan malah mrmberikan komentar tidak tahu kenapa," tutup Syarief Hasan.

Editor: Content Writer
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas