Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Syarief Hasan " Pembangunan 4-Track Strategy era SBY Masih Relevan Atasi Ancaman Perubahan Iklim"

Syarief Hasan menyampaikan bahwa, permasalahan krisis iklim ini perlu menjadi prioritas bersama, baik pemerintah dan seluruh elemen bangsa

Syarief Hasan
MPR RI
Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan 

TRIBUNNEWS.COM - Krisis iklim yang melanda dunia hari ini perlu mendapatkan perhatian yang ─║ebih besar dari berbagai stakeholder baik penyelenggara negara, non-negara serta masyarakat dunia. Para ilmuan dan pemimpin agama merupakan aktor non negara dimana mereka memiliki peran strategis serta tanggungjawab moral dalam upaya menjaga kelestarian bumi dari ancaman perubahan Iklim.

Berbagai dialog dilakukan yang salah satunya yakni dialog antara pemimpin agama dan ilmuan dalam menyerukan perlunya tindakan nyata untuk mengatasi perubahan iklim yang berlangsung di Vatikan. Paus Fransiskus menyampaikan kepada Presiden-Designate COP26, Rt Hon Alok Sharma dan Menteri Luar Negeri Italia, Hon. Luigi Di Maio, bahwa sebanyak 40 pemimpin agama, yang mewakili miliaran orang di dunia telah sepakat menandatangani Seruan Bersama untuk mengatasi perubahan Iklim.

Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan menyampaikan bahwa, permasalahan krisis iklim ini perlu menjadi prioritas bersama, baik pemerintah dan seluruh elemen bangsa. Isu perubahan iklim telah ada dan sejak lama menjadi perhatian pemerintah.

Sejak tahun 2011, Presiden SBY sudah merumuskan konsep peralihan menuju Green Global Economic, dimana Indonesia yg dipimpin oleh Presiden SBY sebelumnya telah melahirkan dan melaksanakan pembangunan dengan konsep strategi pembangunan 4-track, yaitu pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment.

“Permasalahan perubahan iklim ini menjadi perhatian Presiden SBY sejak 10 pemerintahun SBY. Strategi pembangunan 4-track juga sudah diadopsi dalam berbagai rumusan kebijakan. Bahkan kemudian konsep ini juga yang melandasi perumusuan program-program SDGs (Sustainable Development Goals). Bumi yang kita pijak, usianya semakin tua, dan manusia sudah terlalu banyak membebani kehidupannya dengan mengeksploitasi isi bumi, maka menjadi penting untuk kita sadari bersama, bahwa ancaman krisis iklim itu nyata. Kita sudah rasakan, banyak sekali bencana yang terjadi akibat perubahan iklim ini. Suhu bumi yang semakin panas, kenaikan volume air laut, hingga yang terbaru adalah ancaman tenggelamnya ibukota”.

Politisi senior partai demokrat tersebut juga menyampaikan bahwa saat in yang menjadi prioritas ialah bagaimana Indonesia bisa berkontribus di dalam upaya pencegahan perubahan iklim. “Di DPR saat ini sedang dibahas tentang Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan (RUU EBT), dimana Indonesia diharapkan dapat merealisasikan target pengurangan gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 yang termaktubkan dalam UU Nomor 16/2016. Kita terus dorong berbagai produk kebijakan yang ramah lingkungan, sehingga kemudian terbangun sistem nya dan pelaksanaan nya dapat berjalan sesuai dengan target NDC (Nationally Determined Contributions). Ini menjadi concern kita semua,khususnya Pemerintahan sekarang dan yang akan datang” tutupnya.(*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas