Tribun

Bamsoet: Transisi Energi dan Memulihkan Keseimbangan Lingkungan Hidup

Hal ini diungkapkan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam tulisannya yang berjudul Transisi Energi dan Memulihkan Keseimbangan Lingkungan Hidup

Editor: Content Writer
Bamsoet: Transisi Energi dan Memulihkan Keseimbangan Lingkungan Hidup
MPR RI
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo 

Genangan air di Sintang, Kalimantan Barat, berlangsung selama empat pekan dengan tinggi air sekitar 100-300 cm. Kota Batu di Malang, Jawa Timur, porak poranda akibat terjangan banjir Bandang.  Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),  telah terjadi sedikitnya  2.203 bencana alam di dalam 10 bulan terakhir, terhitung sejak 1 Januari 2021 hingga 30 Oktober 2021.  Rinciannya, 891 musibah banjir, 587 musibah puting beliung dan 406 musibah tanah longsor.  Rangkaian musibah ini menyebabkan 6,63 juta orang menderita dan mengungsi, 13.031 orang luka-luka, 549 orang meninggal dunia dan 74 orang hilang.  Tak kurang dari 134.587 rumah mengalami kerusakan.

Sudah sejak lama para ahli mengemukakan bahwa musibah banjir dan tanah longsor lebih disebabkan oleh faktor kerusakan atau ketidakseimbangan lingkungan hidup. Dalam beberapa dekade terakhir, faktor ulah manusia merusak keseimbangan lingkungan hidup lebih dominan dibanding faktor alam, seperti letusan gunung api, gempa bumi hingga tsunami.  Sudah sangat lama manusia berperilaku tidak ramah lingkungan, tercermin dari kegiatan penebangan, penggundulan dan pembakaran hutan, pemanfaatan lahan yang serampangan hingga kebiasaan  membuang sampah ke sungai.

Daratan pulau Kalimantan yang di masa lalu sarat hutan  tak pernar mengalami musibah banjir. Namun, setidaknya dalam dua terakhir, beberapa wilayah di Kalimantan langsung tergenang akibat hujan deras. Hampir sebulan penuh wilayah Sintang tergenang. Musibah di Sintang memberi gambaran betapa parahnya kerusakan pada semua area tangkapan hujan di pulau Kalimantan. Area hutan di Kalimantan sudah tak mampu lagi menampung air hujan akibat penebangan pohon dan pembakaran hutan.

Rangkaian musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di banyak daerah akhir-akhir ini hendaknya mendorong semua komunitas untuk semakin peduli pada kemauan menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Caranya sederhana. Berhenti melakukan penebangan pohon secara tidak terencana. Jangan ada lagi pembakaran atau penggundulan hutan. Dan, tidak boleh lagi membuang sampah di sungai. Setiap komunitas pun hendaknya mulai bergiat melakukan reboisasi.

Semua pemerintah daerah (Pemda) diharapkan mulai peduli pada upaya memulihkan keseimbangan lingkungan hidup. Pemda bersama masyarakat menjaga dan melindungi hutan dari aksi penebangan liar dan pembakaran.  Program reboisasai seperti penanaman sejuta pohon patut dilanjutkan dengan melibatkan semua komunitas  di daerahnya masing-masing. Pemda pun harus berani memastikan sungai bersih dari sampah. Siapa saja yang membuang sampah ke sungai harus diberi sanksi yang berat.

Harus tumbuh kepedulian dari setiap Pemda untuk mengajak dan mendorong semua komunitas semakin ramah pada alam dan lingkungan hidupnya masing-masing. Ketidakseimbangan lingkungan hidup harus segera dipulihkan untuk menghindari musibah.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas