Tribun

HNW Dukung Peningkatan Kualitas Pendidikan Keagamaan Untuk Indonesia Yang Bermartabat

Hidayat Nur Wahid mendorong agar kualitas pendidikan keagamaan kelas menengah di Indonesia terus ditingkatkan untuk anak didik berakhlak mulia.

Editor: Content Writer
zoom-in HNW Dukung Peningkatan Kualitas Pendidikan Keagamaan Untuk Indonesia Yang Bermartabat
Doc. MPR
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid saat Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (Panja) Komisi VIII tentang Pengawasan Pendidikan Keagamaan di Gedung DPR RI, Kamis (25/8/2022). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI yang sekaligus Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA ikut mendorong agar kualitas pendidikan keagamaan kelas menengah di Indonesia untuk terus ditingkatkan agar bisa jadi mitra dalam berkompetisi dengan sekolah umum, guna terus menghasilkan budaya dan anak didik yang berakhlak mulia atau berbudi pekerti yang baik yang berdampak positif bagi masa depan anak didik generasi milenial, Y maupun Z, untuk kejayaan bangsa dan negara menyongsong satu abad Indonesia Merdeka.

Hal tersebut disampaikan oleh Hidayat di dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (Panja) Komisi VIII tentang Pengawasan Pendidikan Keagamaan di Gedung DPR RI, Kamis (25/8/2022).

Rapat tersebut dihadiri oleh pimpinan Pondok Pesantren Modern Darrusalam Gontor Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA, Kepala Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Serpong Dr. Abdul Basit, S.Ag, MM dan Kepala Sekolah SMA Katolik Samosir Sumatera Utara.

HNW, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa peran pendidikan keagamaan di Indonesia secara umum selama ini sudah berjalan dengan baik. Hal ini terbukti dengan tidak adanya kasus-kasus tawuran antar pelajar dari sekolah keagamaan atau beredarnya narkotika di kalangan sekolah keagamaan.

“Kita tidak pernah mendengar kasus seperti itu di sekolah pendidikan keagamaan,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, di dalam beberapa tahun terakhir terjadi beberapa kasus pelecehan seksual yang sangat miris terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan.

Walaupun kasus semacam itu juga bermunculan di lingkungan pendidikan umum, tetapi tetap saja persoalan ini juga jadi perhatian dan perlu dikoreksi agar tidak terulang lagi terjadi.

“Jangan sampai pendidikan keagamaan ini hanya sekadar teori. Sehingga terjadi kasus-kasus semacam itu seperti di Bandung dan Jombang,” ujarnya.

Oleh karenanya, HNW berharap agar success story atau best practice dari MAN Insan Cendekia dan Pondok Pesantren Gontor, serta pendidikan keagamaan lainnya bisa dijadikan rujukan bagi yang lain.

“Kami ingin memperoleh info yang lebih dalam, bagaimana ponpes, MAN dan pendidikan keagamaan lainnya yang sudah berhasil menginternalisasi nilai-nilai agama sehingga menghasilkan budaya dan anak didik yang memiliki budi pekerti yang baik, yang bisa berkiprah secara konstruktif karena kualitas diri dan ethos yang terbangun bersama hadirnya pendidikan beragama yg berkualitas,” tukasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas