Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pemilu 2014 Dominasi Pemilih Pemuda

Pemilu 2014 diprediksi peneliti senior Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi pemilih pemuda akan dominan. LSI menghitung, tahun 2014, terdapat 32 persen pemilih yang berusia antara 21-31 tahun.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Prawira

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pemilu 2014 diprediksi peneliti senior Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi pemilih pemuda akan dominan. LSI menghitung, tahun 2014, terdapat 32 persen pemilih yang berusia antara 21-31 tahun.

"Selain secara statistik, signifikansi pemilih pemuda juga terletak pada karakteristik pemuda yang berbeda bila dibandingkan dengan segmentasi pemilih yang lain," kata Burhan.

Pemilih pemuda secara umum terbagi menjadi dua. Pertama, kelompok apatis atau apolitis. Kelompok ini biasanya teralienasi dari sistem atau proses politik yang ada. Karena itu, kelompok pemuda ini mudah terseret ke dalam arus golput karena pemilu dianggap tidak terkait dengan kepentingan pragmatis mereka.

Kedua, kelompok pemuda yang rasional atau kritis. Karakteristik pemuda yang rasional atau kritis bisa berujung pada dua hal: golput atau memilih partai, tapi “mudah pindah ke lain hati.” Pilihan golput biasanya bukan didasarkan pada alasan yang remeh-temeh atau alasan administratif, tapi benar-benar atas kesadaran bahwa pemilu dianggap gagal melahirkan proses rekruitmen politik yang baik. "Intinya, jika mereka menyatakan golput lebih karena karena persoalan kontekstual-sistemik seperti problem ketidakpercayaan terhadap struktur dan sejenisnya," kata Burhan.

Sebaliknya, jika kelompok pemuda yang kritis dan rasional ini memutuskan untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilu, mereka tidak gampang dibujuk dengan slogan dan jargon. Mereka akan menilai secara kritis program-program partai atau kandidat presiden serta menitikberatkan pada isu ketimbang pencitraan.

"Kelompok ini bisa diklasifikasikan sebagai swing voter yang mudah mengalihkan dukungan ke partai lain yang dianggap lebih aspiratif terhadap kepentingan rakyat. Mereka masuk dalam golongan protest voters," kata Burhan.

• VIVAnews

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas