Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

20 Hari Peluru Bersarang di Tubuh Surya

Arief tidak mengetahui kalau saat itu, peluru masih dibawa pulang Surya sampai ke Indonesia

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yogi Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pembawaan Surya Fachrizal tenang, tak banyak bicara. Hatinya berbunga menyusul namanya masuk daftar dari sekain ratus relawan negara dunia yang turut dalam kafilah kemanusiaan Freedom Flotilla. Marvi Marmara, kapal pengangkut relawan asal Turki, bercat putih dan biru muda, sudah berlayar mendekati perairan Israel.

Pikiran, dan rasa was-was para kafilah tentang perjalanannya yang bakal tak mulus menjadi nyata. Tanpa warta, lewat Subuh menjelang Senin pagi, 21 Mei, tentara Israel menyerang Mavi Marmara. Dari atas Helikopter, desingan peluru sudah menghujani aktifis yang ada di kapal. Para kafilah tak ubahnya rakyat Gaza, mereka disiksa, dibrondong.

Walhasil banyak yang terluka, bahkan tewas. Tak terkecuali Surya. Jurnalis Hidayatullah.com tersebut menjadi korban. Peluru menerjang paru-parunya sebelah kanan, tembus menyerempet liver, mengenai diafragma sampai tertanam di pinggul kanannya. Peristiwa itu terjadi, Senin 21 Mei. Dari 12 relawan Indonesia, Surya yang paling parah.

Kondisi itu memaksa Israel harus mengevakuasi dan merawat Surya secara intensif. Pria kelahiran Jakarta, 28 tahun silam ini menjalani sisa hidupnya di Rambam Hospital. Operasi pun dilakukan padanya. Tubuh bagian depan dibedah vertikal, dari dada sampai bawah pusar. Tapi tidak untuk mengeluarkan proyektil tentara Israel.

Dari rekam medis Rambam Hospital, tidak menyebutkan operasi pengangkatan peluru. Arief Rachman, dokter MER-C,  yang menerima rekam medis Surya di perbatasan Raffah, hanya mengetahui perihal kerusakan bekas tembak. "Di rekam medis tidak disebutkan apakah ada tindakan pengambilan peluru apa tidak," ujar Arief kepada Tribunnews.com, kemarin.

Arief tidak mengetahui kalau saat itu, peluru masih dibawa pulang Surya sampai ke Indonesia pada 21 Juni 2010. Meski sekeluarnya dari Israel, Surya sempat dirawat di rumah sakit militer di Jordan. Selama di Jordan, Arief hanya menjalani pemulihan bekas operasinya selama di Israel. Diketahui bekas peluru itu menimbulkan cairan di paru-paru surya.

Berita peluru yang masih mengendap, Arief mengetahuinya dari Surya dan orangtuanya setelah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto. Pertama kali kecurigaan soal peluru ditemui Agus, dokter utusan Kementerian Kesehatan RI, yang membawa Surya dari Jordan. Ia melihat kejanggalan dari cara jalan Surya yang bungkuk dan kerap memegang pinggul kanannya.

Rekomendasi Untuk Anda

Itu sebabnya, sehari setelah tiba di RSPAD, Agus langsung memerintahkan dokter Robert yang merawat Surya untuk melakukan pengangkatan peluru. "Kecurigaan itu sudah dirasakan dari Jordan," ujar Mahladi, Pemred Hidayatullah Media Grup, bos Surya, dihubungi terpisah.

Beruntung, setelah pelurunya diangkat, Surya sudah bisa berjalan, melakukan salat sendiri. Mahladi mengatakan bahwa anak buahnya itu juga sudah bisa berangkat ke masjid. Sementara dari barang bukti operasi, proyektil itu hanya sebiji jarum pentul. Barang bukti itu diketahui dari hasil rontgen dan setelah pengangkatan.

Konon, dari jenisnya, proyektil tersebut adalah peluru yang digunakan untuk senjata tipe M-16. Namun, sampai saat ini belum ada identifikasi lebih lanjut lewat uji balistik. "Jadi bukan M-16 yang digembar-gemborkan saat itu. Besar proyektil sebesar jarum pentul," ujar Guntur dari TPM. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas