Mantan Staf Khusus Megawati Ungkap Eksil Sukses di Luar Negeri
Walau tragedi 1965 telah lama berlalu namun hingga kini proses penyelesaiannya secara komprehensif
Penulis:
Rachmat Hidayat
Editor:
Johnson Simanjuntak
Komnas HAM sendiri bertekad akan menuntaskan persoalan "lama" tragedi 1965 dengan harapan terjadi rekonsiliasi di kemudian hari agar rasa dendam yang dipupuk sekian lama bisa teratasi.
Disertasi yang digarap mantan staf khusus Megawati Soekarnoputri yang baru saja meraih gelar doctor di Universitas Padjajaran, kini dosen di Universitas Indonesia dan London School of Public Relations Ari Junaedi mengungkap, setidaknya bisa "membuka" cakrawala baru peristiwa kelam yang merenggut ribuan korban tewas beberapa tahun silam itu.
Tragedi 1965 memiliki dimensi baru. Ari Junaedi dalam sidang promosi doktornya di Universitas Padjadjaran, Bandung berjudul "Transformasi Identitas dan Pola Komunikasi Para Pelarian Politik di Mancanegara. Studi Interaksi Simbolik terhadap Transformasi Identitas dan Pola Komunikasi Para Pelarian Politik Tragedi 1965 di Negara Swedia, Jerman, Belanda, dan Prancis" menelisik "sisa laskar Pajang" yang masih terserak dibelahan dunia.
Dari hasil penelitian lapangan orang "dekat" mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri ini, masih banyak pelarian politik atau eksil tragedi 1965, baik pelaku langsung atau anak cicitnya yang tinggal di berbagai negara dan kini berstatus warga negara asing.
"Tidak ada angka yang pasti berapa jumlah eksil tragedi 1965 yang masih hidup hingga kini," katanya
Namun diperkirakan, jumlahnya sekitar1500 orang baik dari generasi pertama hingga ke tiga akibat terjadinya proses perkawinan campuran. Peta distribusi eksil tragedi 1965 pun menyebar, terbentang dari Rusia hingga negara-negara pecahannya, Bulgaria, Hongaria, Ceko, Slowakia, Rumania, Jerman, Belanda, Perancis, Swedia, Venezuela, Australia, Polandia, Kanada, Cina, Kuba, Korea Utara, Myanmar hingga Vietnam.