Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Mantan Staf Khusus Megawati Ungkap Eksil Sukses di Luar Negeri

Walau tragedi 1965 telah lama berlalu namun hingga kini proses penyelesaiannya secara komprehensif

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Walau tragedi 1965 telah lama berlalu namun hingga kini proses penyelesaiannya secara komprehensif belumlah tuntas. Tragedi 1965 masih banyak meninggalkan luka dan sejuta pertanyaan yang belum terjawab. Tidak saja masalah politik, hukum,sosial tetapi juga ranah hak asasi manusia.

Komnas HAM sendiri bertekad akan menuntaskan persoalan "lama" tragedi 1965 dengan harapan terjadi rekonsiliasi di kemudian hari agar rasa dendam yang dipupuk sekian lama bisa teratasi.

Disertasi yang digarap mantan staf khusus Megawati Soekarnoputri yang baru saja meraih gelar doctor di Universitas Padjajaran, kini  dosen di Universitas Indonesia dan London School of Public Relations Ari Junaedi mengungkap, setidaknya bisa "membuka" cakrawala baru peristiwa kelam yang merenggut ribuan korban tewas  beberapa tahun silam itu. 

Tragedi 1965 memiliki dimensi baru. Ari Junaedi dalam sidang promosi doktornya di Universitas Padjadjaran, Bandung berjudul "Transformasi Identitas dan Pola Komunikasi Para Pelarian Politik di Mancanegara. Studi Interaksi Simbolik terhadap Transformasi Identitas dan Pola Komunikasi Para Pelarian Politik Tragedi 1965 di Negara Swedia, Jerman, Belanda, dan Prancis" menelisik "sisa laskar Pajang" yang masih terserak dibelahan dunia.

Dari hasil penelitian lapangan orang "dekat" mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri ini, masih banyak pelarian politik atau eksil tragedi 1965, baik pelaku langsung atau anak cicitnya yang tinggal di berbagai negara dan kini berstatus warga negara asing.

"Tidak ada angka yang pasti berapa jumlah eksil tragedi 1965 yang masih hidup hingga kini," katanya

Namun diperkirakan, jumlahnya sekitar1500 orang baik dari generasi pertama hingga ke tiga akibat terjadinya proses perkawinan campuran. Peta distribusi eksil tragedi 1965 pun menyebar, terbentang dari Rusia hingga negara-negara pecahannya, Bulgaria, Hongaria, Ceko, Slowakia, Rumania, Jerman, Belanda, Perancis, Swedia, Venezuela, Australia, Polandia, Kanada, Cina, Kuba, Korea Utara, Myanmar hingga Vietnam.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas