Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

UI Merelokasi 10 Pohon Raksasa African Baobab

Bertempat di kampus Universitas Indonesia, Depok, Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri (Rektor UI) bersama Drs. Lestiyono,

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - Bertempat di kampus Universitas Indonesia, Depok,  Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri (Rektor UI) bersama Drs. Lestiyono, Ak.,M.Sc  (Direktur Utama PT PG Rajawali II, Cirebon) menyaksikan pemasangan prasasti relokasi dan konservasi lima pohon African Baobab yang berasal dari PT PG Rajawali II, di Subang, Jawa Barat beserta penanaman dua pohon raksasa di lingkungan kampus UI.

Pohon yang akrab dikenal sebagian masyarakat dengan istilah pohon Ki Tamblek ini, memiliki diameter pohon 3,5 meter dengan berat 50 hingga 60 ton. Lima pohon tersebut, saat ini telah bertunas dan tumbuh di Kampus UI, semenjak dipindahkan dari lokasi kebun tebu PT PG Rajawali II di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Pada hari yang sama dengan pemasangan prasasti, akan dilakukan juga pemananan pohon African Baobab yang baru datang dari Subang, Jawa Barat dengan diameter pohon 4,2 meter yang memiliki berat 80 dan 120 ton. Proses pemindahan pohon ini menjadi peristiwa yang spektakuler karena merupakan proses pemindahan 7 pohon raksasa pertama di dunia.

Kegiatan pemindahan (relokasi) pohon Baobab ini bermula dari perjalanan Rektor dua tahun lalu ke Eropa, dan saat di Jerman membaca sebuat artikel di sebuah media yang mencantumkan keistimewaan dari Superfruit benama African Baobab/Adansonia Digitata.

Diberitakan bahwa buah dari pohon tersebut mengandung vitamin C yang sangat tinggi bahkan 6 kali lebih banyak dari yang terkandung di dalam jeruk dan kadar kalsium lebih banyak dari yang terdapat di susu.

Daun dari pohon ini dapat di pergunakan untuk bahan lalap atau sayur. Pohon ini mengandung mineral sangat tinggi. Kulit pohon ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat membuat tali, bahkan pakaian. Pohon ini ditengarai juga mengandung zat-zat yang di pergunakan sebagai obat untuk pengobatan tradisional.

Di Eropa, buah pohon tersebut, diterima sebagai produk alam dari Afrika yang kemudian daging buahnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus dipergunakan masyarakat Eropa, sebagai penambah bahan untuk mengolah sup dan berbagai makanan olahan lainnya.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas