Kampung Mbah Maridjan Ramai Dikunjungi Wisatawan
Kampung Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Kabupaten Sleman menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan
Penulis:
Willem Jonata
Editor:
Iswidodo
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA- Kampung Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Kabupaten Sleman menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati indahnya Merapi setelah 40 meletus sejak 26 Oktober 2010.
Masyarakat berduyun-duyun mengunjungi Kinahredjo yang kini sudah rata dengan lumpur kelabu terhampar. Seperti lautan pasir, pepohonan tumbang, tampak kering tinggal puing. Sedangkan di sisi kali Opak terhampar lautan pasir yang sebagian masih mengepulkan asap. Pengunjung sangat antusias memotret dan mengabadikan pemandangan indah ini dengan latar belakang Gunung Merapi masih mengeluarkan asap putih.
Masjid yang dulu dibangun dan jadi tempat Mbah Maridjan bersama tetangga beribadah, juga runtuh tinggal puing-puing.
"Di mana rumah dan masjidnya Mbah Maridjan, ya," kata sekelompok muda-mudi yang berwisata, Minggu, (05/12/2010), pagi.
Mereka datang mengendarai sepeda motor dan mobil. Rata-rata para wisatawan itu membawa serta keluarganya. Berdasarkan pengamatan Tribunnews, ratusan orang memanfaatkan hari libur untuk mengunjungi Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Arus lalu-lintas jalan satu-satunya menuju dusun itu pun sempat mengalami kemacetan.
Begitu pula Dusun Kopeng, Kepuharjo. Dusun itu merupakan permukiman terakhir yang masih memiliki beberapa bangunan utuh. Dari situ itu tampak jelas hamparan debu dan pasir yang berundak. Termasuk Dusun Kinahrejo.
Penduduk setempat meminta sumbangan sukarela. Sumbangan itu semacam tiket masuk menuju Kinahrejo atau tempat-tempat yang terkena dampak langsung letusan Merapi.
Eko Prehono (33), warga Dusun Kopeng, mengatakan bahwa, sejak status awas Gunung Merapi diturunkan menjadi siaga, banyak orang dari luar daerah yang datang. Mereka ingin melihat bagaimana kerusakan akibat letusan itu. (*)
Baca tanpa iklan