Polisi Dinilai Gagal Identifikasi Potensi Kerusuhan
Komisioner Komnas HAM, Joseph Adi Prasetyo menilai pihak kepolisian telah gagal, mengidentifikasi potensi kerusuhaan
Editor:
Kisdiantoro
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisioner Komnas HAM, Joseph Adi Prasetyo menilai pihak kepolisian telah gagal, mengidentifikasi potensi kerusuhaan, dalam dua konflik fisik berbau agama dalam sepekan terakhir.
"Ini teroganisir, seharusnya mereka bisa membaca," ujar Joseph kepada Tribunnews.com, melalui telepon, Rabu (9/2/2011).
Pihaknya, ujar Joseph lebih lanjut, mendapatkan indikasi, pihak kepolisian membiarkan kejadian kekerasan itu terjadi.
"Ada indikasi intel sudah tahu tapi membiarkannya," katanya.
Bila mengetahui adanya potensi konflik seharusnya pihak kepolisian sudah bisa menyiapkan aparatnya, dan besaran eskalasi konflik, sehingga tidak beralasan kalah jumlah dengan pihak-pihak berkonflik.
"Seharusnya sudah bisa dihalau, yang lain pertanggung jawaban komando, dalam situasi rawan pihak polres bisa meminta ke Polda untuk menurunkan personilnya. Tidak ada alasan kalah jumlah," katanya.
Dalam sepekan, dua kejadian kekerasan berlatar belakang agama, pecah. Kejadian pertama pada hari Minggu (6/2/2011), ketika ribuan masyarakat menyerbu Jamaah Ahmadiyah, di Desa Cikeusik, Pandeglang, Banten.
Tiga orang tewas, sementara puluhan orang lainnya, terluka.
Kejadian kedua ketika tiga gereja dibakar oleh massa, di Temanggung, Jawa Timur, kemarin, Selasa (8/2/2011).
Aksi tersebut diduga dilatarbelakangi kekesalan mereka terhadap pihak Jaksa Penuntut Umum, yang menuntut 5 tahun penjara, terhadap terdakwa kasus penistaan agama, Antonius Richmond Bawengan, yang sidangnya digelar di Pengadilan Temanggung, dekat dengan lokasi pembakaran.
Baca tanpa iklan