Anak Kartosoewirjo: Cuci Otak Dikembangkan NII KW 9 Abu Toto
Era kepemimpinan Negara Islam Indonesia Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo tidak mengenal konsep mencuci otak
Penulis:
Y Gustaman
Editor:
Prawira
"Dulu (NII) hanya ajarkan dakwah, infaq, dan sadaqah 2.5 persen dari penghasilan yang kita dapat. Cuci otak baru, dan dikembangkan Abu Toto," ujar Sarjono Kartosuwiryo, anak pendiri NII Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirdjo, di Serang, Minggu (8/5/2011).
Menurut Sarjono, penetrasi NII KW 9 yang abnormal telah menjelekkan nama NII lainnya yang dalam praktiknya tidak seperti sekarang. Mereka benar-benar berjuang dan memimpikan Negara Islam Indonesia. Namun, karena NII KW 9 juga, umat Islam mendapat predikat buruk.
"Yang masalah adalah kasus NII KW 9. Ada delapan tidak ada masalah. KW 9 adalah bagian dari Jakarta Raya, Tangerang, Bekasi, dan termasuk Banten," ujar Sarjono Kartosuwiryo, anak pendiri NII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo, di hotel Le Dian, Serang, Minggu (8/5/2011).
Dikatakannya, NII KW 9 dipimpin Adah Jaelani pada tahun 1970 an. Sementara NII di bawah Kartosoewirdjo NII terbagi dalam tujuh wilayah atau sampai KW 7. Setelah bapaknya dieksekusi, riwayat NII tamat, dan semua warganya harus kembali ke pangkuan NKRI.
Maklumat untuk menghentikan jihad fi sabilillah dikeluarkan karena kondisi NKRI sudah dalam kondisi damai. Dan mereka diperintah untuk kembali bergaul dengan masyarakat Indonesia kebanyakan. "Kalau sekarang ada KW 9 yang abnormal dan mereka mengikuti sistemnya (NII)," imbuhnya.
Baca tanpa iklan