PKB: NKRI dan Pancasila Final
Ketua Umum Dewan Tanfidz Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin berkomentar
Penulis:
Rachmat Hidayat
Editor:
Prawira
"Radikalisme dan doktrin NII dimunculkan minoritas dalam kekuatan islam Indonesia. Saat ini ada dua katagori menggejala mengatasnamakan islam. Satu, dengan memakai cara-cara kekerasan, radikalisme dan teror. Kedua, fenomena dilakukannnya doktrin terhadap kalangan islam bahkan pemaksaan kehendak melalui berbagai cara termasuk hipnotis, masuk dalam jaringan NII," kata Muhaimin Iskandar dalam pernyataannya kepada tribun, Minggu (08/05/2011),
Muhaimin kemudian mengungkapkan keprihatinannya pada hasil survey, ada kesalahan pemahaman dari kalangan muda seolah-olah cara kekerasan itu menjadi salah satu solusi. Fenomena yang agak aneh yang sebenarnya mayoritas umat Islam cinta kepada perdamaian, ketentraman, kepada rahmatan lil alamain tetapi diam.
"Saatnyalah PKB dan NU bangkit bergerak, ngomong, bicara, menata diri, lebih agresif, lebih proaktif. Untuk itu, warga NU dan PKB dan juga kepada semua pihak termasuk kepada kalangan anak-anak muda lebih agresif lagi. Lebih proaktif membentengi agar tidak terpancing oleh segelintir orang yang mengatas namakan Islam," tegasnya.
Penguawatan ajaran aswaja (ahli sunnah waljamaah) katanya lagi, menjadi penting kita tanamkan di lingkungan terdekat kita. PKB dan NU melalui jarinangan Badan-badan Otonom, lembaganya dan juga pesantrennya harus lebih proaktif mengawal pengokohan aswaja, membendung faham-faham menyimpang.
"Bagi PKB dan NU NKRI dan Pancasila sudah final. Tidak perlu lagi dibuka ruang masuknya konstitusi lain. Kita serukan segenap keluarga besar ahlisunahwaljamaah , bergerak menyatakan sebagai lebih tegas sebagai mayoritas yang menolak kekerasan menolak atas nama agama," kata Muhaimin Iskandar.