Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Membaca Nusantara dari Mata Orang Cina

Sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara pada sekitar abad ke 14, tak banyak literatur yang menjelaskan bagaimana keadaan nusantara.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara pada sekitar abad ke 14, tak banyak literatur yang menjelaskan bagaimana keadaan nusantara.

Salah satu deskripsi mengenai keadaan Indonesia yang dapat dikatakan cukup lengkap, salah satunya dapat ditemukan dari laporan-laporan perjalanan orang-orang dari dataran Cina yang menyambangi nusantara.

Wilem Pieter Groeneveldt, seorang sinolog asal Belanda yang sempat menetap lama di Indonesia, merangkum catatan-catatan perjalanan tersebut dalam sebuah buku berjudul "Notes on the Malay Archipelago and Malacca compiled from Chinese Source" yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1880.

Didi Kwartanada dari Yayasan Nabil, pada acara Diskusi Buku "Nusantara dalam Catatan Tionghoa," Kamis, (26/05/ 2011), di Museum Nasional, Jakarta Pusat, menuturkan bahwa karya Groeneveldt tersebut adalah kompilasi yang lengkap, tentang berbagai carita Cina dari abad ke 5-7 masehi, mengenai sejarah dan pola-pola kehidupan penduduk Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Indonesia Timur dan semenanjung Malaya.

"Tidak mudah untuk menghasilkan karya tersebut, bahkan ia mampu untuk menunjukan kesalahan-kesalahan para sarjana pendahulunya yang menulis hal serupa," katanya.

Literatur Cina kuno yang digunakan Groeneveldt dalam bukunya antara lain adalah "Yingya Shenglan oleh Ma Huan pada 1416, Xingcha Shenglan oleh Fei Xin pada 1436, Hai Yu oleh Huang Zhong pada 1537, Dong Xi Yang Kao oleh Wang Qizong pada 1618, Fo Guo Ji oleh seorang bikso bernama Faxian pada 400 masehi serta Taiping Huanyi Ji oleh Lio Shi pada tarikh 976-983.

Buku tersebut dapat dikatakan sebagai acuan penting untuk penelitian dan penulisan sejarah Kumo Indonesia. Karena tak banyak peninggalan sejarah nusantara, yang dapat menceritakan sejarah nusantara sebelum datangnya bangsa Eropa.

Sumber-sumber yang diacu Groeneveldt menceritakan terutama kehidupan di sejumlah daerah di Indonesia pada kurun waktu 400-1600 masehi. Uraian tentang hubungan diplomatik antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, serta keadaan topografi dan geografi Nusantara pada zaman dahulu.

Sejumlah hal dalam buku tersebut menurut Widi patut menjadi perenungan bagi masyarakat moderen ini. Groeneveldt dengan jelas menceritakan bagai mana hubungan historis yang sangat panjang antara Tiongkok dengan Indonesia, bahwa sejak sebelum datangnya bangsa Barat, orang Cina sudah bermukim di nusantara, dan beranak pinak di sini, sebagian memeluk islam.

Arkeolog dari Universitas Indonesia, Hasan Djafar dalam kesempatan yang sama menuturkan bahwa karya Groeneveldt dapat menjadi sumber acuan untuk penelitian sejarah nusantara, dengan cara membandingkan peningalan-peninggalan sejarah yang tersisa dengan deskripsi dari buku tersebut.

Hasan Djafar juga memuji kejelian Groeneveldt dalam memilah-milah materi yang dibukukannya. Sinolog asal Belanda itu menurutnya dapat membedakan antara fakta, dengan berita-berita yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas