Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Jakob Oetama Belajar dari Ojong

Pada April 1961, Ojong mengajak Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Ade Mayasanto

Laporan Wartawan Tribunnews.com Febby Mahendra Putra

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tawaran itu tak ditanggapi serius oleh Jakob karena fokus menyelesaikan kuliah di Fakultas Sosial dan Politik UGM. Pada April 1961, Ojong mengajak Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati  perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi dunia. Majalah bulanan Intisari terbit pertama kali Agustus 1963.

Untuk menjalani hidup sebagai wartawan, Jakob bergaul akrab dengan kalangan wartawan  seperti Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar. "Dalam soal-soal jurnalistik, Ojong itu guru saya, selain Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar," katanya.

Di mata Jakob, Ojong kuat di bidang humaniora dan kuat dalam prinsip nilai-nilai kemajuan. Mochtar Lubis sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, sedang Rosihan Anwar kuat dalam persoalan humaniora.
Majalah Intisari kemudian diperkuat oleh teman-teman Jakob-Ojong dari Yogyakarta seperti Swantoro dan J Adisubrata. Menyusul kemudian Indra Gunawan dan Kurnia Munaba.

Begitu juga Irawati, seorang sarjana hukum alumnus Universitas Diponegoro, Semarang, yang rela beberapa bulan tak dibayar asal boleh bergabung di Intisari.  Orang-orang tersebut yang kemudian menjadi pemimpin di unit-unit usaha baru Kompas Gramedia.

Sambil terus memberi perhatian kepada pengembangan Intisari, dilandasi cita-cita mengembangkan kemajemukan Indonesia, Jakob dan Ojong aktif dalam gerakan asimilasi Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB). Lembaga itu merupakan sebuah gerakan yang mengajak keturunan Tionghoa untuk benar-benar solider dan menyatu dengan rakyat Indonesia di segala bidang.

Bakom PKB didirikan 30 orang pri dan nonpri, pada 1977, di antaranya Hasjim Ning, K Sindhunata, Abjan Soleiman, H Syafiudin, Junus Jahja, Ridwan Saidi, Lo SH Ginting, dan Njoo Han Siang. Nama Jakob dan PK Ojong tidak tercantum sebagai pendiri Bakom PKB, namun pemikiran mereka mengenai asimilasi menjadi sadar pijakan pendirian gerakan tersebut. Baca Juga: Tak Mau Koran Jadi Corong Partai

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas