Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Miris, Putera Indonesia Jadi Tentara Diraja Malaysia

Kenyataan banyaknya anak-anak keturunan Bugis jadi tentara di Malaysia membuat politisi Partai Hati Nurani Rakyat, Akbar Faisal

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Y Gustaman
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenyataan banyaknya anak-anak keturunan Bugis jadi tentara di Malaysia membuat politisi Partai Hati Nurani Rakyat, Akbar Faisal, miris. Terlahir di Indonesia tapi mereka bekerja sebagai Tentara Diraja Malaysia. Meski sebagai Tentara Diraja Malaysia, mereka tak melupakan kampung halamannya dan tetap datang ke rumah orangtuanya.

Pengalaman pahit itu dirasakan Akbar ketika berkunjung ke Pulau Sebatik, Kalimantan Timur. Di pulau ini penduduknya hampir 90 persen asal Bugis. "Kalau mereka libur kembali ke Indonesia, berkunjung ke rumah orangtuanya," ujar Akbar ditemui di Ruang Fraksi Hanura, DPR RI, Rabu (12/10/2011).

Fakta mengejutkan lain yang didapat Akbar, di Pulau Sebatik ini hampir semua produk yang digunakan masyarakatnya adalah buatan Malaysia, seperti gas dan gula. Untuk kebutuhan BBM, tak ada Pertamina, yang ada hanya Petronas.

Banyak hal, kata Akbar, persoalan perbatasan minim menjadi perhatian pemerintah. Munculnya pergesaran patok batas wilayah ini tak terjadi sekali dua kali. Ia mengaku, pergeseran-pergeseran patok sering terjadi di perkebunan sawit.

Akbar juga mengkritik perhatian pemerintah kurang fokus bekerja soal perbatasan. Ia menyebut contoh bagaimana Kementerian PDT melakukan seminar di Jakarta, padahal mereka punya fokus di daerah tertinggal.

"jadi apa gunanya itu. Akhirnya kan terjebak juga dalam wilayah pencitraan. PU misalnya, boro-boro mengatasi perbatasan, mengurusi tol saja tidak bisa. Maka kemudian naik lah harga tol itu," terangnya lagi.

Dikatakannya, banyak pencurian kayu terjadi. Dari cerita yang ia dengar, banyak kayu asal Indonesia dicuri dengan digelindingkan ke perbatasan. Lalu, mobil-mobil Malaysia, truk pengangkut kayu sudah siap angkut dan langsung bawa pergi di atas jalan mereka yang mulus.

"Jadi menurut saya, kita bangsa yang suka ribut-ribut kalau ada klaim dan segala macam. Nanti kalau tidak ada klaim biasa saja," sesalnya.

Ribut-ribut saoal batas wilayah mengemuka lagi setelah muncul pemberitaan wilayah Camar Bulan dicaplok Malaysia.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas