Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Kenaikan Ambang Batas Parlemen Tingkatkan Kualitas Demokrasi

Ketentuan parliamentary threshold sebesar 2,5 persen ternyata tak mampu membentuk suatu parlemen sederhana

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Yudie Thirzano

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada Pemilu 2009, prosentase electoral threshold tidak dinaikkan namun ditambah dengan parliamentary threshold. Ketentuan parliamentary threshold Pemilu 2009 yaitu, parpol peserta pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2,5 persen dari jumlah suara sah secara nasional agar dapat diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR.

Ketentuan parliamentary threshold sebesar 2,5 persen ternyata tak mampu membentuk suatu parlemen sederhana karena parlemen masih terbagi atas berbagai fraksi termasuk fraksi kecil, sehingga tidak tercapai suatu mayoritas dalam parlemen.

"Akibatnya, Presiden terpilih gagal mendapatkan dukungan kuat dari parlemen, kondisi Presiden yang demikian oleh Mainwaring dan Shugart (1997) disebut sebagai minority president," kata politisi PDIP yang juga ketua Pansus RUU Pemilu, Arief Wibowo, Minggu (13/11/2011).

Sebagaimana dinyatakan dalam studi Mainwaring dan Shugart di beberapa negara Amerika Latin, ujarnya posisi Minority President selalu membuat pemerintahan menjadi terbelah (devided government) karena Presiden tidak mendapatkan dukungan kuat dari parlemen.

Hal ini juga diperkuat penelitian Linz dan Arturo (1994), presidensial yang dibayangi multipartai selalu mengakibatkan pemerintahan cenderung tidak efektif, tidak stabil dan rentan konflik antar lembaga negara. Paling tidak studi Linz dan Arturo telah membuktikan bahwa perpaduan antara presidensial dengan multipartai di beberapa negara Amerika Latin selalu berakibat Presiden konflik dengan parlemen sehingga pemerintahan menjadi terganggu dan tidak berjalan lancar.

"Karena itulah, kita bisa memahami jika Presiden SBY kemudian sengaja menyimpangi prinsip-prinsip sistem pemerintahan presidensial dengan membentuk pemerintahan koalisi yang sebenarnya tidak perlu karena pengangkatan para menteri murni prerogratifnya," ujarnya, Minggu (13/11/2011).

Namun, itu terpaksa dilakukan karena Partai Demokrat gagal memperoleh kursi mayoritas. Akibatnya, agar tidak berada dalam kondisi minority President, lanjut Arief,  terpaksa pula Presiden SBY membentuk koalisi dalam bentuk Sekretariat Gabungan Parpol Koalisi agar pemerintahan bisa tetap berjalan dengan dukungan mayoritas Fraksi di DPR serta tanpa perlu mendapatkan gangguan yang berarti dari DPR secara institusional.

Rekomendasi Untuk Anda

"Praktik presidensial menyimpang ini tentu bertentangan dengan semangat reformasi yang sejak awal menghendaki sistem pemerintahan presidensial yang lebih tegas. Oleh karena itu, jika saat ini dipandang penting parliamentary threshold kembali dinaikkan di antaranya agar tidak perlu lagi terjadi praktik presidensialisme menyimpang tersebut," kata Arief.

Dalam perspektif kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan nasional, langkah tersebut justru sangat diperlukan demi memperkuat kualitas demokrasi dengan terbentuknya pemerintahan Presidensial yang efektif.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas