Agama Hanya Dikonsumsi Kaum Elit
Dialog antarumat beragama dinilai belum maksimal, karena hanya pemahamannya hanya dikonsumsi kaum elit berpendidikan.
Penulis:
Wahyu Aji
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dialog antarumat beragama dinilai belum maksimal, karena hanya pemahamannya hanya dikonsumsi kaum elit berpendidikan. Sementara masyarakat kalangan bawah belum memahami substansi wacana ini, sehingga mereka mudah terprovokasi untuk terjebak dalam konflik antar umat beragama.
"Faktornya adalah minimnya pendidikan dan kurangnya kesejahteraan, karena itu kami sangat menyayangkan," jelas Ketum Generasi Muda Khonghucu (Gemaku), Tan Thay Yang, di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Minggu (5/2/2012).
Lebih jauh Tan menjelaskan, tidak terlaksananya dialog antarumat beragama di Masyarakat kalangan bawah menjadikan mereka begitu mudah terjerembab dalam intoleransi. Kalaupun melakukan toleransi, masih pada tahapan membiarkan umat agama lain melakukan aktifitasnya. Tan menilai hal ini bukanlah toleransi sejati. Jika memang ada semangat toleransi maka seharusnya masyarakat saling membantu, mengisi kekurangan dalam kehidupan masing-masing.
Semangat saling menghargai juga tidak boleh dilupakan. Ketika ada perayaan natal, maka masyarakat dari agama lain dalam satu lingkungan seharusnya bisa membantu perayaan tersebut, dan begitu sebaliknya.
Tan meyakini bahwa dialog antar umat beragama dapat berjalan maksimal, sebab dialog ini sudah pernah terjadi ratusan tahun lalu. Kalau dulu tidak ada dialog ini, maka tidaklah mungkin masyarakat pra kemerdekaan menyetujui berdirinya Klenteng besar di Semarang, Jawa Tengah, dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia.