Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
Live
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Calon Pilot Tinggalkan Anak-Istri dengan Bekal Setahun

Seorang calon pilot mengaku gundah terhadap nasib keluarga, anak istri yang ditinggalkan di Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Domu D. Ambarita
Memuat video…

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Setelah video streaming pertama mengenai penipuan calon pilot asal Indonesia di Amerika beredar November, Kabarinews.com mengunggah video kedua, 26 Desember 2011.  Dalam video ini, pewawancara John Oei dan Kapten Hifni duduk searah berhadapan dengan lima calon siswa penerbang yang menjadi korban OM itu.

Mereka berada dalam satu ruangan, seperti live show televisi, namun wajah kelima siswa itu membelakangi kamera. Hanya bagian belakang kepala mereka yang tampak.

Seorang calon pilot mengaku gundah terhadap nasib keluarga, anak istri yang ditinggalkan di Indonesia. "Saya tinggalkan keluarga, saya sudah punya anak. Jadi saya tinggalin budget cuma untuk 1 tahun, kalau diundur nggak tahu harus bagaimana lagi," kata seorang dari mereka.

"Kami tidak bolos, karena tidak ada kendaraan untuk bolos. Dari rumah ke sekolah, selalu dijemput, dan tidak bisa ke mana-mana," kata seorang lainnya sembari menyebut membayar 30 ribu dolar itu sebelum berangkat ke Amerika. Dana itu sudah termasuk ongkos tiket pesawat ke Amerika, biaya hidup selama 7 bulan tinggal di AS. "Bahkan kami dijanjikan langsung kerja di penerbangan sepulang dari sini," kata satunya lagi.

"Tapi ternyata karena tidak sesuai kesepakatan awal, ketika hendak keluar, disodorkan surat utang," katanya.

Menurut mereka, alasan utama tidak bisa melanjutkan sekolah penerbangan karena pesawat tidak tersedia. Aero Tech betul sekolah penerbangan, namun Oscar tidak membayar, sehinga tidak disediakan pesawat untuk dipakai siswa asal Indonesia.

"Persoalan yang sering kami hadapi adalah, pesawat tidak tersedia. Kalau siswa yang lain terbang setiap hari, tetapi kami tidak, hanya sekali dua minggu. Kalaupun dapat pesawat, kami diundur terus dari pagi menjadi siang. Semula instruktur selalu ada, tapi pesawat yang tidak ada. Setelah komplain berulang-ulang, dan bahkan ada yang keluar," ujar seorang dari mereka sembari menyebut dana sektiar 270 juta ditransfer ke rekening Accelerate 36. "Itulah salahnya kami, kami tertipu karena tidak tahu," ujarnya menyesali. (tribunnews/willy widianto)

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas