Kapten Hifni Ditelepon Seorang Bupati
Ternyata bukan Aero Tech Redlands yang mengeluarkan surat mengundang calon pilot melainkan Accelerate 36. Ternyata OM seorang makelar.
Penulis:
Domu D. Ambarita
TRIBUNNEWS.COM, TRIBUN- Belasan calon pilot asal Indonesia baru saja tiba di Amerika, pertengahan tahun lalu. Setibanya di California dengan maksud untuk belajar di sekolah penerbang Accelerate 36 milik OM, laki-laki asal Indonesia yang berdomisili di Amerika Serikat.
Setelah sampai di sana, mereka mengisi formulir I-20, dokumen yang diwajibkan Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk siswa asing yang mengikuti pelatihan di negeri Paman Sam itu. Surat keterangan pun dimintakan ke Pacific Aviation School di Camarillo, AS untuk memenuhi syarat Formulir I-20, tempat para siswa ini berlatih jadi calon pilot.
Di sinilah kecurigaan mulai muncul. Ternyata OM tidak dapat membangun hubungan baik dengan Pacific Aviation School, sekolah penerbang ternama di kota itu. OM kemudian memindahkan siswa asal Indonesia yang telah membayar 30 ribu dolar AS, atau sekitar 270 juta, ke sekolah penerbang lainnya juga di California, Aero Tech Academy Redlands.
Setelah diterima di Aero Tehc Academy, para siswa mendapat surat keterangan dan kemudian dibawa mereka ke kedutaan. Di sana semakin ketahuan kebusukan OM. Ternyata bukan Aero Tech Redlands yang mengeluarkan surat mengundang para pemuda asal Indonesia untuk sekolah penerbangan melainkan Accelerate 36. Ternyata OM seorang makelar.
Kapten Hifni Assegaff, seorang warga Indonesia yang telah 14 tahun bekerja sebagai instruktur penerbang di AS menganalogkan percaloan yang dilakukan OM sebagai berikut; John memiliki sekolah penerbang. Seorang calon siswa tidak langsung ke John, tetapi ke Willy terlebih dahulu. Willy lah yang membayar uang sekolah dan segala macamnya urusan sekolah ke John. Sementara Willy tidak punya sekolah, tidak punya infrastruktur, hanya sebagai makelar.
"Saya sudah ke sana. Jadi anak-anak ni benar tertipu. Ada yang hanya dua bulan terbang. Ada juga yang tujuh bulan terbang, tetapi jam terbangnya hanya 70 jam selama 7 bulan. Berarti selama satu bulan terbang hanya 10 jam. Dan ingat, sebagai siswa pilot, kalau seminggu saja tidak terbang filing landing hilang, abilitynya hilang, dan harus mulai dari nol lagi," kata Hifni.
Di menuturkan, lazimnya untuk mendapatkan lisensi pilot pesawat komersial, perlu pendidikan rutin 8-9 bulan. Untuk mendapatkan lisensi ada peraturan tentang pengoperasian pesawat diatur dalam CASR (Civil Aviation Safety Regulation). Department Perhubungan Indonesia sendiri mengadopsi CASR ini.
Dari sekian banyak bagian dalam CASR, manakah yang paling berhubungan dengan pekerjaan seorang penerbang. Secara umum yang wajib diketahui adalah CASR Part 61 tentang bagaimana mendapatkan lisensi dan sekolah penerbangan memiliki bagiannya sendiri yaitu Part 141.
Untuk mendapat surat izin pilot, Part 61 mewajibkan belajar minimal 250 jam terbang untuk mendapatkan lisensi pilot komersial. Menurut Hifni, calon pilot dari Indonesia umumnya menempuh cara ini karena keterampilan bahasa Inggrisnya biasa-biasa, sedangkan Inggris, Swedia dan Norwegia menerapkan standar Part 141 jam terbangnya lebih pendek untuk mendapatkan lisensi yang sama dengan Part 61.
Menurut Hifni, ada siswa asal Indonesia sudah 7 bulan berada di Amerika, padahal jam terbang baru sedikit. "Hendry yang paling tua, sudah 7 bulan, sudah dua setengah bulan terakhir tidak terbang lagi.
"Saya sudah tidak terbang dua setengah bulan ini, tidak terbang. Saya sudah menghadap OM tapi OM sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Uang sudah di dia, tetapi OM tidak bayar Aero Tech, jadi Aero Tech tidak mau kasih anak-anak pesawat," ujar Hifni menirukan Handry, seorang calon siswa penerbangan korban OM.
Ada juga korban anak bupati di Sulawesi Selatan. "Bapaknya si anak ini bupati di Sulsel, kami sama-sama dari Akmil, dia senior saya. Dia menelepon saya, lalu saya bawa anaknya ke lawyer, dan lawyer sudah kasih surat ke OM, dan harus merespon selama 4 bulan sekali," kata dia.
Nama anaknya Ari BP, sudah 8 bulan ini, angkatan persama tidak selesai dan dikeluarkan dari sekolah. Ari memiliki file under superior code 22715982. Selain itu, menurut Hifni yang jadi korban penipuan adalah Hendry A, Ari BP angkatan pertama, Zulfikar J, Sahat TP dan Clay S. (tribunnews.com/domu d ambarita)
Baca tanpa iklan