Orangtua Rangga Terlanjur Jual Mobil dan Pinjam 50 Juta
Ayah dan ibu Rangga menjual mobil dan mengutang kepada saudara-saudara mereka hingga Rp 50 Juta.
Editor:
Domu D. Ambarita
Laporan Wartawan Tribunnews, Willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Menjadi seorang pilot merupakan cita-cita yang pasang- surut sejak kecil Rangga. Akan tetapi hal itu menguat kembali setelah kakak kandungnya mengalami kecelakaan pesawat Lion Air Solo, Jawa Tengah, tahun 2004.
"Saya ingin jadi pilot saat kakak saya kecelakaan pesawat Lion Air yang ngusruk ke kuburan waktu itu kakak saya patah kakinya," jelas Rangga, satu dari belasan calon pilot yang gagal ke Amerika.
Rangga tidak ingin celaka. Justru pemuda 20 tahun asal Tangerang, Banten itu ingin menjadi pilot dengan tekad melindungi semua orang yang bepergian dengan pesawat terbang dan tidak mengalami musibah seperti yang menimpa kakaknya.
Walau sempat dilarang keras oleh sang kakak dengan alasan pekerjaan tersebut sangat berbahaya, Rangga tetap saja terobsesi menjadi penerbang. Bahkan, saat mencoba mendaftar sekolah pilot di Amerika Serikat, kedua orang tuanya rela menjual salah satu kendaraan pribadinya demi cita-cita sang anak. Tidak hanya itu, ayah dan ibu Rangga juga mengutang kepada saudara-saudara mereka hingga Rp 50 Juta.
"Buat transfer daftar sekolah di Amerika itu jual mobil Avanza, sekarang sudah enggak ada mobil. Saudara-saudara waktu itu juga terus desak harus bayar utang padahal si Oscar belum kembaliin full," kata yang telah mengirim 30 ribu dolar AS, atau setara Rp 270 juta kepada OM, CEO Accelarate 36, orang Indonesia yang menjadi makelar sekolah penerbang di Amerika.
Orang tua Rangga sendiri begitu mengetahui sang anak ditipu, tidak marah sama sekali. Namun Rangga sadar akan apa yang ia perbuat tersebut. Dari situlah dia semakin matang, dalam mengambil sebuah tindakan harus benar-benar hati-hati dan sangat cermat serta tidak gegabah.
Selain itu, dia pun berpesan bagi mereka yang mau menjadi pilot cari saja sekolah yang berada di dalam negeri dan tidak usah jauh-jauh pergi ke luar negeri, karena hasilnya sama saja. "Ambil hikmahnya saja, yang saya dengar cerita-cerita biaya hidup di Amerika biayanya 10 ribu dolar AS," ujarnya.