89 Presiden Mahasiswa Berkumpul di Bandung
Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Hal itu tampak dari banyaknya persoalan yang tak terselesaikan oleh pemimpin negara ini.
Penulis:
Edwin Firdaus
Editor:
Gusti Sawabi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Hal itu tampak dari banyaknya persoalan yang tak terselesaikan oleh pemimpin negara ini. Demokrasi yang diidam-idamkan sejak runtuhnya massa orde baru rasanya jauh dari harapan masyarakat.
Kompleksnya persoalan negara itulah yang kemudian menyebabkan semua pihak merasa prihatin, terlebih kelompok mahasiswa. Bahkan, alasan tersebutlah yang melandasi pertemuan mahasiswa se-Indonesia saat ini, Senin (20/2/2012) di Universitas Islam Bandung (Unisba), Bandung, Jawa Barat.
Pada pertemuan ini rencananya akan dihadiri ratusan mahasiswa dan 89 presiden mahasiswa (Presma) dari universitas di seluruh Indonesia. Acara yang bertajuk "Manata Indonesia Pasca SBY; Merumuskan Strategi kepemimpinan nasional" ini akan di gelar hingga sore nanti dengan menampilkan sejumlah ahli yang memaparkan idenya sebagai bentuk pijakan perumusan langkah mahasiswa mengambil perannya.
Presma Unisba, Bayu Apka Putra menilai situasi demokrasi yang memperihatinkan, dengan banyaknya persaingan politik tidak sehat, dapat membuat negara ini akan lebih jauh lagi dari cita-citanya. Terlebih jika upaya tidak sehat itu selalu disuguhkan kepada masyarakat luas. Maka, sudah tentu itu membuat masyarakat menjadi tidak cerdas dalam menghadapi permasalahan politik di negeri ini. Belum lagi mengenai kisruh pilkada dan persinggungan antar umat beragama, dan yang terpenting di sektor penegakkan hukum.
"Kami menilai keadilan pada penegakkan hukum di Indonesia masih tebang pilih, terutama pada wilayah tindak pidana korupsi yang rasanya sangat kontras antara di Pusat dengan daerah," kata Bayu dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, Senin (20/2/2012).
Bayu menjelaskan, pada pertemuan mahasiswa ini ke depannya akan merumuskan beberapa poin pemikiran untuk mendesak pemerintah segera melakukan pembangunan ekonomi yang merata.
"Kekayaan alam harus diarahkan bagi kesejahteraan rakyat serta Peningkatan daya tahan ekonomi rakyat melalui kegiatan wirausaha harus lebih kuat," ujarnya.
Selain itu, dalam kesempatan yang sama, Bayu juga membantah adanya anggapan sejumlah kelompok masyarakat yang menuding bahwa pertemuan ini akan ditunggangi partai politik tertertentu. Pasalnya, setelah kegiatan ini berlangsung, hasil rekomendasi rapat akbar ini akan disebar luaskan ke seluruh kampus yang ada di Indonesia, baik forum rektor, pemerintah, partai politik, bahkan ke seluruh elemen-elemen masyarakat dan media sebagai acuan perjuangan bersama.
"Meski anggaran acara ini hingga 80 Juta rupiah, tetapi itu tidak harus menjadikan kami menjadi pelacur politik dalam sejarah gerakan mahasiswa. Ini perlu diluruskan, dana 80 juta ini kami dapatkan dari rektorat, dana kemahasiswaan dan donasi tidak mengikat,"sergahnya.
Baca tanpa iklan