Adnan Buyung: Dibyo Widodo Seperti Hoegeng
Namun, karena ketegasan Dibyo, Buyung bersimpati dan tetap mendampingi anak buahnya menjalani proses hukum.
Penulis:
Adi Suhendi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kapolri periode 1996-1998 Jenderal Polisi (purn) Dibyo Widodo, dinilai Adnan Buyung Nasution satu ranking dengan Kapolri periode 1968-1971 Jenderal Hoegeng Imam Santoso.
Apa alasan yang membuat advokat senior menyamakan Dibyo dengan Hoegeng? Buyung mengisahkan perjalanan Dibyo ketika terjadi gejolak politik yang dikenal dengan peristiwa Trisakti 1998. Saat itu, Dibyo sebagai Kapolrinya.
Dalam peristiwa tersebut, empat mahasiswa Trisakti tewas dan menyeret dua anggota Brimob yang tiada lain adalah anak buah Dibyo.
Sebagai pemimpin, Dibyo langsung turun tangan meminta Adnan Buyung sebagai tim pembela hukumnya.
“Saat itu bukan hanya seluruh mahasiswa, tapi masyarakat pun antipati kepada Polri. Saat itulah saya diminta Kapolri untuk membela (dua anggota Brimob),” kenang Buyung saat ditemui di PTIK, Jakarta Selatan, Jumat (16/3/2012).
Bukan hanya Polri yang kala itu mendapat hujatan, Buyung pun ikut dihujat, lantaran dianggap tidak pro mahasiswa.
Di tengah kemarahan mahasiswa dan massa saat itu, Dibyo tetap membela anak buahnya, dan menganggap keduanya tidak bersalah.
“Beliau orang yang tegas, dan mengatakan kepada saya, Pak Buyung saya taruhkan jabatan saya untuk membela anak buah saya, karena saya yakin anak buah saya tidak bersalah,” ujar Buyung.
Ketika itu, Polri masih bergabung dengan ABRI, sehingga selain mendapat tekanan dari mahasiswa dan masyarakat, Dibyo juga juga mendapatkan tekanan dari Mabes ABRI.
Dibyo saat itu ditekan supaya tidak menggunakan kuasa hukum dari sipil, tapi menggunakan tim advokasi dari Babinkum ABRI.
“Saat itu mereka meminta supaya saya diberhentikan dan memakai tim Babinkum dari ABRI,” ungkpa Buyung.
Namun, karena ketegasan Dibyo, Buyung bersimpati dan tetap mendampingi anak buahnya menjalani proses hukum.
“Karena beliau tegas, saya juga siap membela terus, dan Babinkum jadi ikut, tapi dibantu saya,” tuturnya.
Menurut Buyung, seorang Kapolri harus punya sikap seperti Hoegeng, sosok yang sederhana dan santun. Baginya, Dibyo Widodo merupakan Hoegeng kedua, setelah Buyung melihat ketegasannya pada era 1998.
Selain itu, seorang Kapolri pun harus memiliki keberanian dalam mengambil risiko jabatan. Kata Buyung, saat ini banyak orang yang berani dan pintar, tapi tak mau mengambil risiko.
“Buat saya, karakter itu ada di situ, berani mengambil risiko, di situ lah yang berkarakter,” cetus Buyung setelah melayat jenazah Dibyo Widodo, saat disemayamkan di PTIK.
Buyung berharap negeri ini kembali bisa mendapatkan Kapolri seperti Hoegeng dan Dibyo Widodo. (*)
Baca tanpa iklan