Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengamat: Politik Santun Cuma Kedok Sembunyikan Dosa

Gaya berpolitik santun ini dipraktikkan oleh Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Rachmat Hidayat

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA-- Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Doni Gahral Adian, menyatakan, semakin tebal kedok seseorang dalam berpolitik, maka semakin besar dosa yang disembunyikan.

Doni mengatakan, gaya berpolitik santun ini dipraktikkan oleh para politisi di Indonesia, termasuk Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

"Istilah santun seperti kedok. Makin tebal kedoknya (santun), semakin banyak pula dosa politik yang ditutupi," kata Doni dalam diskusi "Politik Santun, Antara Retorika dan Kenyataan" di Rumah Perubahan 2.0, Jakarta Pusat, Selasa (19/6/2012).

Menurutnya, gaya berpolitik seperti itu juga dilakukan oleh presiden kedua RI, Soeharto. Lain halnya dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. "Gus Dur itu melabrak aturan yang sudah ada. Namun, kebijakannya memberi manfaat bagi orang banyak," ujarnya.

Berpolitik yang santun saat ini, imbuhnya, dijadikan alat untuk perebutan kekuasaan dan menyembunyikan kebijakan yang mencederai masyarakat. Hal tersebut diperkuat dengan budaya masyarakat Indonesia yang selalu melihat sesuatu yang tampak. Padahal, di belakang itu tersembunyi kebohongan.

"Saat Pemilu 20014 nanti, mana yang kita pilih? Pemimpin yang tampil apa adanya tapi konstitusional atau pemimpin yang santun tetapi banyak yang disembunyikan," kata Doni.

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Kompas.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas