Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Elektabilitas Partai Islam Merosot karena Posisi Menengah

Hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) 2012 menunjukkan adanya tren atau kecenderungan elektabilitas publik terhadap partai-partai

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) 2012 menunjukkan adanya tren atau kecenderungan elektabilitas publik terhadap partai-partai berbasis massa Islam semakin menurun dan ditinggalkan konstituennya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PPP, M Romahurmuziy, mengatakan rendahnya elektabilitas terhadap partai-partai Islam adalah pernyataan yang yang memberikan arah yang keliru atau missleading.

Menurutnya, penurunan elektabilitas partai Islam itu bukan karena ideologi atau basis massa pendukung Islam atau tidak, melainkan karena posisinya sebagai partai menengah. "Itu masalah partai menengah," kata Romahurmuziy, Jakarta, Rabu (27/6/2012).

Menurut Romahurmuziy, ada empat faktor yang menyebabkan elektabilitas partai-partai Islam menurun.

Pertama, karena relatif lemah dalam kemampuan memunculkan pemimpin nasional yang berkarakter kuat. Partai-partai menengah, termasuk PPP, belum memiliki figur yang memiliki jam terbang politik yang memadai dibandingkan dengan partai-partai papan atas.

Partai-partai papan atas, dipimpin oleh politisi berjam terbang lebih dari tiga kali pemilu. Sementara, 59 persen masyarakat yang berpendidikan rendah atau tidak lulus SD, lulus SD dan SMP), umumnya menilai partai dari karakter figur pemimpinnya.

"Sehingga, partai-partai papan atas diuntungkan oleh kuatnya karakter dan tingginya jam terbang pemimpinnya. Jadi, lambatnya regenerasi kepemimpinan dalam parpol, alih-alih menjadi persoalan, ternyata justru menjadi faktor yang menguntungkan dalam hal elektabilitas," kata dia.

Rekomendasi Untuk Anda

Kedua, karena posisi minoritas di parlemen, partai-partai menengah yang tidak kunjung bersatu, kurang mampu tampil menjadi penggerak manuver politik di tingkat nasional.

Ketiga, karena demokrasi subtansial, dibajak oleh demokrasi prosedural yang didominasi kosmetika pencitraan yang berbiaya tinggi. Akibatnya, partai menengah yang relatif terbatas aksesnya kepada sumber-sumber keuangan, secara faktual jarang bisa tampil di media massa dibandingkan partai papan atas.

Keempat, karena dominannya para pemikir, pengamat, dan akademisi memberikan pernyataan di media massa yang berorientasi politik sekuler. "Sedikit banyak, lontaran-lontaran pemikirannya membentuk opini publik, khususnya di kalangan menengah ke atas, yang umumnya kelas menengah itu juga pada gilirannya berperan sebagai local opinion maker," terangnya.

Meski begitu, lanjut Romahurmuziy, terlepas adanya motif dan mengambil momentum, PPP menjadikan hasil survei dari berbagai lembaga sebagai masukan untuk perbaikan kinerja ke depan.

Klik Juga:

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas