Sekjen DPD: Sri Kadarwati Sosok Ramah dan Tegas
Jajaran DPD RI merasa kehilangan dengan wafatnya anggota dari Kalimantan Barat, Sri Kadarwati
Penulis:
Abdul Qodir
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jajaran DPD RI merasa kehilangan dengan wafatnya anggota dari Kalimantan Barat, Sri Kadarwati. Sri Kadarwati meninggal dunia di usia 65 tahun karena sakit kanker di RS Dharmais Jakarta, Selasa (31/7/2012) sekitar pukul 12.00 WIB.
Sekretaris Jenderal (Sekjen ) DPD RI, Siti Nurbaya, menceritakan bahwa Sri, panggilan akrabnya, adalah anggota DPD selama dua periode berturut-turut sejak 2004.
Posisi terakhir istri mantan Gubernur Kalimantan Barat Aswin Gaspar ini tergabung di Komite I DPD yang membidangi otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah serta antar-daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; pemukiman dan kependudukan; pertanahan dan tata ruang; serta politik, hukum, dan hak asasi manusia (HAM).
Almarhumah juga aktif menyuarakan kepentingan daerah dan konstituen serta memimpin beberapa tim kerja Komite I DPD.
"Beliau sangat aktif di Pansus (panitia khusus) waktu pembahasan RUU Parpol dan RUU Pemilu pada periode lalu. Beliau juga aktif sebagai anggota kelompok perwakilan DPD di MPR RI guna memperjuangkan suara DPD," ujar Nurbaya.
Lebih dari itu, lanjut Nurbaya, almarhum juga sangat lantang memberi penjelasan ke publik saat awal kali ada DPD RI. "Kita bersama-sama menghadapi pers soal kehadiran DPD pada awal kali, 2006 akhir. Saya ingat betul, beliau sangat tangkas dang terbilang cukup ngotot memberi penjelasan," ungkapnya.
Nurbaya menduga keaktifan dan vokalnya Sri tersebut dikarenakan dia sudah punya modal sebagai senator karena aktif dalam organisasi saat sang suami menjabat Gubernur Kalbar. "Beliau sangat tegas dan argumentasinya sangat kuat. Dia juga sangat sistematis, kalau politisi kan biasanya biasa saja, justru ada yang masa bodo (tak perduli)," imbuhnya.
Hal yang paling membuat Nurbaya kehilangan sosok Sri, yakni sikap ramahnya kepada staf di Setjen DPD.
"Beliau orangnya tidak pernah menyakiti hati orang lain. Kami di jajaran staf DPD ingat betul, beliau selalu menyapa. Benar-benar ramah, tapi punya ketegasan sikap," ucapnya.
Nurbaya mengatakan dirinya, jajaran DPD, dan staf, sangat kehilangan sosok Sri. Apalagi, sebelumnya tak ada tanda-tanda jika dia tengah mengalami sakit.
"Benar-benar kami tidak tahu kalau Bu Sri itu lagi sakit kanker. Terakhir bertemu sebelum reses (berhenti sidang) 13 Juli kemarin. Dia waktu sebelum itu masih ikut rapat. Dia masih aktif dan tugas seperti biasa. Enggak ada tuh tanda-tanda sakit seperti orang loyo atau lemah. Malah, terakhir sebelum reses beliau juga ikut kunker (kunjungan kerja) ke Yogyakarta. Beliau SMS saya, bilang masih kunker di Yogya," tutur Nurbaya seraya menyatakan diri baru pulang melayat dari rumah duka di Cinere, Jawa Barat.
Sri Kadarwati wafat dengan meninggalkan tiga orang anak dan tujuh orang cucu. Ketiga anak hasil perkawinannya dengan mantan Gubernur Kalimantan Barat Aspar Aswin, yakni Devi, Doni Prasetya (42) dan Rico Andrisetya (38).
Rencananya, Rabu (1/08) pagi, jenazah akan diberangkatkan di Cinere Jawa Barat ke Temanggung, Jawa Tengah, dengan menggunakan pesawat komersial dari Bandara Soekarno-Hatta. Almarhum akan dimakamkan setelah waktu Dzuhur, tepat di sebelah mendiang makamm suaminya, yang telah wafat pada Desember 2007 lalu.