Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jenderal Polisi Mewah-mewahan, Duit dari Mana?

Petinggi Polri mendapat sorotan akhir-akhir ini menyusul kasus dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Akpol Irjen Pol Djoko Susilo.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Anwar Sadat Guna

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Petinggi Polri mendapat sorotan akhir-akhir ini menyusul kasus dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Akpol Irjen Pol Djoko Susilo.

KPK telah menetapkan Djoko Susilo sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan simulator kemudi motor dan mobil untuk pelayanan SIM di Korlantas Polri.

Kasus korupsi yang menjerat petinggi Polri ini tak urung dikaitkan dengan gaya hidup mewah para sang jenderal.

Apalagi diduga Djoko Susilo memiliki sejumlah aset miliaran rupiah.

Satu di antara aset yang tidak tercantum dalam Laporan Hasil Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN) adalah rumah di Solo, Jawa Tengah.

Dalam laporan yang disampaikan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) ke KPK, Jenderal Polri bintang dua itu diduga memiliki tanah dan bangunan seluas 5000 m2 yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Surakarta.

Anggota Komisi III DPR Eva K Sundari menegaskan logika darimana jenderal polisi sangat bermewah-mewahan.

Rekomendasi Untuk Anda

"Duitnya dari mana?" tanya Eva di gedung DPR Jakarta, Kamis (2/8/2012). Politisi PDIP ini menegaskan perlu reformasi menyeluruh di Polri untuk memberantas korupsi. Dikatakan, reformasi kelembagaan di Polri memang berjalan namun reformasi kultur macet total.

Di tempat yang sama, dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Alfons Loemau mengakui gaya hidup petinggi Polri yang terkesan hidup mewah-mewahan.

"Mana ada petinggi Polri yang tinggal di rumah dinas. Ada yang tinggal di (pemukiman elit) Pondok Indah dan lainnya, tanyakan kenapa?," kata dia.

Jika gaya hidup mewah petinggi Polri ini karena memiliki bisnis maka sebenarnya itu tidak sesuai dengan ketentuan pejabat negara dilarang berbisnis.
"Kalau asalnya anak singkong (miskin) seperti saya ya susah (jadi mewah-mewahan)," kata Alfons.

BACA JUGA:

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas