Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kenapa Bendera Kematian di Jakarta Berwarna Kuning?

Tapi, di Jakarta, kenapa bendera yang melambangkan kematian malah berwarna kuning, bukan putih atau hitam?

Tayang:
Baca & Ambil Poin

TRIBUNNEWS.COM - Bagi masyarakat Tionghoa, kematian biasa dilambangkan dengan warna putih. Segala perangkat serta kostum ketika upacara pemakaman, didominasi oleh warna putih. Mulai dari lilin, tirai pintu, lentera, taplak meja, hingga baju berkabung.

Sementara, bagi masyarakat dunia pada umumnya, warna hitam diidentikkan dengan warna berkabung atau warna kematian.

Tradisi ini dimulai ketika Ratu Inggris Victoria menghadiri upacara kematian suaminya, dan ia mengenakan baju berkabung berwarna hitam. Sejak itu, muncul tradisi bahwa warna hitam adalah kesedihan.

Tapi, di Jakarta, kenapa bendera yang melambangkan kematian malah berwarna kuning, bukan putih atau hitam? Berbeda dari di Makasar, Papua, atau Kalimantan, yang tetap memilih warna penanda kematian dengan putih, baik dari agama Islam atau Kristen.

Pemilihan warna kuning sebagai warna kematian, ternyata bermula dari zaman kolonialisme Belanda.

Awalnya, dikenal bendera persegi panjang polos berwarna kuning dengan simbol huruf Q. Bendera kuning ini merupakan penanda bagi para penderita sebuah wabah mematikan yang wajib dikarantina. Oleh karena itu, simbolnya adalah Q, berasal dari kata 'quarantine'.

Konon, di zaman itu, saking mematikannya, wabah tersebut cepat menular dan memakan banyak korban meninggal.

Rekomendasi Untuk Anda

Banyak bendera kuning lalu terlihat di setiap kematian. Hingga kini, kebiasaan itu berlanjut, meskipun sudah tidak ada wabah mematikan tersebut.

Bendera kuning pada akhirnya identik dengan kematian' dan digunakan untuk menandai kematian seseorang. (*)

BACA JUGA

Sumber: Intisari
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas