Terduga Teroris Imron Pasok Senjata Api dari Filipina
Imron, terduga teroris yang ditangkap di Palu, Sulawesi Tengah, mempunyai peranan penting dalam jual beli senjata api antarsesama anggota
Penulis:
Adi Suhendi
Editor:
Anwar Sadat Guna
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Imron, terduga teroris yang ditangkap di Palu, Sulawesi Tengah, mempunyai peranan penting dalam jual beli senjata api antarsesama anggota kelompok teroris alumni pelatihan militer Poso yang dipimpin teroris paling dicari, Santoso.
Imron memiliki peranan sebagai kurir kelompok teroris pimpinan Santoso dan menjadi fasilitator pelatihan teror di Sulawesi Tengah dan ikut dalam pembelian senjata api.
"Dia diduga orang yang membeli senjata api dari Filipina Selatan, dan ikut merakit bom yang ada di Solo," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (10/10/2012).
Selain itu, saat ini Polri pun sedang mengembangkan apa yang dilakukan Imron selama berada di Sulawesi Tengah, termasuk sejumlah perampokan dengan kekerasan dalam rangka mencari dana untuk melakukan aksi teror.
"Dia pernah melakukan aksi fa'i atau pencurian dengan kekerasan (curas) beberapa kali di sulawesi, akan diperiksa, dimana saja melakukan curas tersebut," ucapnya.
Imron merupakan alumni Dams Shahada, Boyolali, Jawa Tengah. Pria kelahiran 26 Januari 1986 tersebut berprofesi sebagai petani dan tinggal di Desa Labuan, Kecamatan Lage, Poso.
Imron pun terkait dengan sejumlah penemuan bom di Beji, Depok dan di Solo beberapa waktu lalu.
"Ia belajar merakit bom dari kelompok Badri (Solo) dan Kelompok Thoriq, serta melakukan fa'i berulang kali di wilayah Sulawesi Tengah atas perintah Santoso (teroris yang saat ini masih DPO). Ia memiliki dan menggunakan senjata api revolver untuk kegiatan fa'i," ujar Boy.