Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Partai Islam Alami Kegalauan

Partai-partai Islam dinilai sedang mengalami kegalauan. Hal itu diungkapkan pengamat politik Burhanudin

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Anwar Sadat Guna

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai-partai Islam dinilai sedang mengalami kegalauan. Hal itu diungkapkan pengamat politik Burhanudin Muhtadi di diskusi media online, Jakarta, Senin (24/12/2012).

"Sampai sekarang kegalauan terjadi di internal PKS. Di internal tidak cukup solid, bagaimana non muslim bisa jadi pengurus atau caleg," kata Burhanudin.

Partai yang berbasis Islam di parlemen yakni PPP, PKB, PKS dan PAN. Menurut Burhanudin, kegalauan itu dilihat bagaimana PKS menilai isu keislaman apakah berpengaruh terhadap penambahan suara mereka.

"PPP membuktikan suara mereka turun terus menerus, jangan-jangan persoalannya bukan Islam-non Islam. Jangan-jangan masalahnya partai Islam gagal sambut isu penting masyarakat, seperti ekonomi dan korupsi," katanya.

Partai Islam, kata Burhanudin juga melihat hingga kini mereka hanya sebagai pengikut kepada pemerintah yang berkuasa. "Mereka (partai Islam) tidak jadi trendsetter atau leader dalam perpolitikan nasional," ujarnya.

Akses media, kata Burhanudin, juga dikuasai oleh partai nasionalis. Bila tidak ada ada batasan soal iklan politik, Ia menilai Partai Islam akan kalah bersaing dengan partai nasionalis.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kalau tidak dibatasi partai islam rugi. Partai islam harus mantapkan dukungan internal dari basis masing-masing. Isu yang diangkat jangan yang keagamaan simbolik, karena ceruk pasarnya makin kecil isu itu. Yang dibutuhkan isu teknis terkait hajat hidup masyarakat," imbuhnya.

Sementara, Ketua Departemen Advokasi Buruh Petani Nelayan PKS, Indra mengakui bila ada kader partai yang non-muslim. Ia mencontohkan hal itu terjadi di Papua. Namun hal itu bukanlah menunjukkan suatu kegalauan.

"Di Papua engga mungkin orang Islam, ada perlakuan khusus. Bila komunitasnya non muslim maka pemimpinnya non muslim. Meskipun di Papua juga ada komunitas muslim kita akan ajukan kader muslim," tuturnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas