Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bekas Markas PKI Jadi Mess Badan Intelijen Negara

sebagai institusi yang biasa-biasa saja, bahkan terkesan baik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Rachmat Hidayat

Laporan Wartawan Wartakotalive.com : Theo Yonathan Simon Laturiuw

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Aksi pembakaran barang-barang milik PKI dan jam malam, lebih banyak meneror warga Jalan Kramat V, Senen, Jakarta Pusat, di masa-masa penumpasan PKI. jauh sebelum masa-masa kelam itu, warga Jalan Kramat V mengenang PKI sebagai institusi yang biasa-biasa saja, bahkan terkesan baik.

Eni Kewas (80), warga Jalan Kramat V yang kini tinggal di sebuah bangunan di belakang Mess Remaja Batalyon Perhubungan mengenang apa yang ia alami saat peristiwa penumpasan PKI dilakukan.

Di massa PKI, gedung itu adalah Pusat Kebudayaan PKI. Seingat Eni, dulunya PKI masuk ke Jalan Kramat V secara baik. Bahkan warga cenderung tak menyadarinya.

"Bangunan-bangunan PKI ini tadinya adalah bangunan milik orang Belanda. Mereka membeli bangunan-bangunan ini," kata Eni.

Beberapa fasilitas milik PKI yang kerap dipakai warga adalah Pusat Kebudayaan PKI dan fasilitas pemeriksaan dokter. The Lanni (57), seorang perempuan yang kini sudah keriput kembali bercerita. Di masa PKI, dia adalah gadis mungil yang masih sekolah di kelas 3 Sekolah Dasar.

Menurut Lanni, anak-anak kecil kerap menghabiskan waktu untuk membaca di Pusat Kebudayaan PKI. "Mereka tak melarang kami untuk membaca di dalam. Banyak buku berbahasa asing yang kami tidak mengerti. Kami hanya membaca buku anak-anak saja," kata Lanni.

Rekomendasi Untuk Anda

Lanni melanjutkan ceritanya lagi. Ia dan keluarganya kerap berobat ke di tempat dokter PKI di gedung logistik yang hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari rumahnya.

"Kalau sakit, ayah saya selalu mengajak saya ke dokter PKI. Soalnya selalu gratis kalau berobat kesitu," ucap Lanni.

Gedung-gedung bekas markas PKI, sudah terlihat tak terawat. Gedung yang dulunya jadi Pusat Kebudayaan PKI, sekarang beralamat di Jalan Kramat V nomor 7. Gedung itu menjadi Mess Remaja Batalyon Perhubungan. Penghuninya kini tentara-tentara bujangan. Cat bangunan itu berwarna hijau dan tak rapih. Di bagian samping gedung, bahkan tampak tembok-tembok retak yang tak dilapisi cat.

Di halaman depannya kini diberi garis-garis untuk bermain voli. Setiap sore, anak-anak kecil lebih kerap memanfaatkan lapangan itu untuk bermain sepakbola. Sementara di sisi lain Jalan Kramat V, Gedung logistik PKI diberi alamat Jalan Kramat V nomor 14. Warga setempat lebih senang menyebutnya sebagai asrama polisi. Mereka yang tinggal disitu memang keturunan dari keluarga polisi yang menempatinya pertama kali.

Bangunan logistik PKI ini merupakan bangunan kembar. Terdiri dari dua bangunan yang bentuknya sama. Bangunan terdiri dari dua lantai. Kini, catnya putihnya tampak kusam, ada bagian yang dilapisi cat berwarna cokelat, terlihat gelap ditumbuhi lumut.

Mereka yang tinggal di bangunan itu kerap memanfaatkan jendela-jendela lebar untuk menggantung cucian agar kering tersiram matahari. Di samping bangunan itu,terlihat beberapa bangunan rumah lain. Di halaman gedung logistik PKI, kini dijadikan tempat parkir mobil milik warga.

Dua gedung PKI Lainnya, yakni gedung percetakan PKI yang kini bernomor 16, dijadikan jadi mess untuk Badan Intelijen Negara (BIN). Gedung lainnya di nomor 18, yang juga jadi penyimpanan logistik PKI, kini menjadi kantor Yayasan Kasimo.

Kondisi dua gedung itu juga tak terlalu baik. Catnya tampak kusam, dan beberapa bagiannya sudah tampak compang-camping.

Sumber: Warta Kota
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas